Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,DIA KINI BERDIRI KOKOH,SEKOKOH PUNCAK GUNUNG YANG MENANTANG BADAI.

0
×

CERPEN,DIA KINI BERDIRI KOKOH,SEKOKOH PUNCAK GUNUNG YANG MENANTANG BADAI.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 23 JUNI 2026

Napas Dariah terasa seringan udara pagi pegunungan Pemalang. Dua tahun lalu, napas itu adalah sesak yang membakar dada. Setiap sudut rumah megah di Tangerang yang dibangun mantan suaminya,seorang kontraktor.

Sukses terasa seperti penjara bawah tanah, Dua puluh lima tahun pernikahan yang dia kira sekokoh beton, ternyata hancur berkeping-keping karena pengkhianatan yang murah.

Dariah masih ingat betul hari ketika dia mengemas seluruh hidupnya ke dalam tiga koper besar. Saat itu, pengadilan baru saja mengetuk palu cerai. Mantan suaminya sempat memohon, berlutut di atas lantai marmer hasil proyek besarnya.

Memintanya bertahan demi seperempat abad yang telah lewat, Namun bagi Dariah, dua puluh lima tahun itu sudah mati. Hubungan mereka telah runtuh tanpa sisa fondasi.

Wanita paruh baya itu memilih pulang, Dia meninggalkan Tangerang yang bising, kembali ke tanah kelahirannya, tempat langkah pertamanya bermula puluhan tahun lalu sebelum merantau dari Pemalang.

Pagi ini, Dariah berdiri di beranda rumah barunya di lereng bukit Pemalang,Di hadapannya, kabut putih merayap pelan di antara jajaran pohon pinus.

Udara pegunungan yang dingin dan bersih merasuk ke dalam paru-parunya, menghapus sisa-sisa racun masa lalu. Tidak ada lagi bau parfum wanita lain yang tertinggal di kemeja kerja, tidak ada lagi kebohongan yang disamarkan dengan alasan lembur proyek.

“Ibu, teh hangatnya,” panggil seorang pelayan setianya dari dalam.Dariah tersenyum, sebuah senyuman yang kini terasa lepas dan nyata. Perpisahan selamanya itu bukan sebuah akhir, melainkan gerbang kemerdekaan.

Mantan suaminya mungkin masih sibuk membangun gedung-gedung tinggi di kota dengan ego dan selingkuhannya yang mulai menuntut banyak hal.

Namun di sini, di bawah langit Pemalang yang biru, Dariah telah berhasil membangun kembali sesuatu yang jauh lebih berharga, harga dirinya sendiri. Dia kini berdiri kokoh, sekokoh puncak gunung yang menantang badai.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *