Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

DUA DOA BERBEDA DIANGGAP BERSIMPANGAN,KINI BERSATU MENGUCAP SYUKUR ATAS KEBAHAGIAAN.

0
×

DUA DOA BERBEDA DIANGGAP BERSIMPANGAN,KINI BERSATU MENGUCAP SYUKUR ATAS KEBAHAGIAAN.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 23 JUNI 2026

Dua musim dingin berganti,Dua tahun kita merajut hari di tengah sepi.Di ujung doa yang tak pernah sama,Ada namamu yang kusebut dengan segala cinta.

Keluarga memalingkan wajah, menolak menerima,Menganggap jalan kita adalah sebuah dosa.Dua tahun lamanya, sayang,Kita memikul beban yang tak kepalang.

Aku lelaki yang berdiri di antara dua titah,Titah Tuhan yang diyakini, dan restu ayah bunda yang pecah.Setiap tetes air matamu adalah saksi,Betapa kita berperang melawan ego tradisi.

Apakah ini salah, mencintaimu di batas perbedaan,Bila dua keyakinan harus beradu dalam satu pelukan.Keluarga memilih menutup pintu hati mereka,Membiarkan kita berjalan tanpa lentera mereka.

Namun, lihatlah ke mataku,Dua tahun ini membuktikan keteguhan cintaku.Kita bukan menentang takdir Tuhan,Kita hanya manusia yang meminta keajaiban.

Malam ini, izinkan aku menggenggam tanganmu lebih erat.Biarlah restu keluarga datang terlambat,Sebab bagiku, kesetiaanmu selama dua tahun ini,Adalah restu paling nyata dari Sang Maha Kasih.

Waktu bergulir membawa tabah,Empat tahun kita bertahan dalam rumah yang indah.Meski dindingnya sempat dibangun dari sunyi,Kini ruang-ruangnya riuh oleh tawa malaikat kecil kami.

Tangis pertama anak kedua kita memecah malam,Meruntuhkan tembok ego yang begitu dalam.Dua cucu kini menjadi jembatan,Menghubungkan dua tepi yang lama terpisahkan.

Pintu yang dua tahun lalu tertutup rapat,Kini terbuka lebar membawa dekap yang hangat.Ayah dan bunda yang dahulu memalingkan muka,Kini bersimpuh menyambut darah daging kita dengan air mata.

Perbedaan agama tak lagi jadi sekat pemisah,Sebab di depan senyum sang bayi, semua amarah pun musnah.Mereka melihat cinta kita bukan lagi sebuah pembangkangan,Melainkan keteguhan yang melahirkan keberkahan.

Empat tahun berdarah-darah meniti duri,Hari ini kita memanen buah dari sabar yang tak bertepi.Dua doa berbeda yang dulu dianggap bersimpangan,Kini bersatu mengucap syukur atas satu kebahagiaan.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *