Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,AIR MATA SALMA JATUH,BUKAN KARENA SEDIH,KARENA BAHAGIA YANG MEMBUNCAH.

8
×

CERPEN,AIR MATA SALMA JATUH,BUKAN KARENA SEDIH,KARENA BAHAGIA YANG MEMBUNCAH.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 16 JUNI 2026

Gerimis tipis sore itu membuat bangku kayu di sudut taman kota Karawang tampak berkilau kebasahan. Di sanalah, setiap sore selama dua tahun terakhir,Sandy selalu menemukan dunianya yang baru.

Di sampingnya, duduk Salma, seorang wanita paruh baya dengan sorot mata teduh namun menyimpan sejuta cerita masa lalu sebagai seorang janda.Bagi Sandi, mengarungi sisa usia yang kian renta bukanlah perkara mudah.

Tubuhnya tak lagi sekuat dulu, dan kesepian perlahan mulai menggerogoti semangat hidupnya. Namun, segalanya berubah sejak kehadiran Salma. Tiga tahun lalu mereka pertama kali bertemu, dan dua tahun terakhir mereka habiskan untuk saling mengenal lebih dalam di taman ini.

Salma adalah pelabuhan yang tak disangka-sangka. Dalam dekap kelembutan sikap Salma,Sandy merasakan kedamaian yang menghapus seluruh duka masa lalunya.

Waktu berjalan cepat ya, Mas,” lirih Salma, memecah keheningan sore itu sambil merapatkan selendang batiknya. Pandangannya lurus menatap daun-daun kering yang gugur perlahan ke atas rumput basah.

Sandy menoleh, menatap garis-garis halus di wajah wanita di sampingnya. Baginya, setiap kerutan itu adalah simbol ketabahan.Sandy meraih jemari Salma yang mulai mendingin akibat angin sore, menggenggamnya erat.

Dua tahun,Salma… Dua tahun kita duduk di bangku ini, merawat ragu dan menghitung sepi bersama,” ucap Sandy dengan suara agak bergetar, khas laki-laki lanjut usia. “Aku tidak ingin kita hanya sebatas teman yang saling mengusir sepi di taman ini.

Salma terdiam, matanya mulai berkaca-kaca menatap kedalaman mata Sandy. Ada rasa melankolis yang menyeruak di antara mereka, berbaur dengan suara tetesan air dari dedaunan.

Aku sudah memutuskan,” lanjut Sandy mantap, meski napasnya terasa berat oleh haru. “Aku ingin menyudahi waktu tunggu ini. Aku ingin serius menikahi mu. Mari kita satukan sisa langkah kaki kita menuju ikatan yang suci.”

Air mata Salma akhirnya jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang membuncah. Dekapan yang selama tiga tahun ini menjadi tempat bersandar sementara, kini akan berubah menjadi sebuah rumah yang sah.Di bawah langit taman yang mulai menggelap, mereka tahu bahwa di sisa usia yang ada, mereka tidak akan pernah berjalan sendiri lagi.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *