NURKATINEWS.COM – KARAWANG 15 JUNI 2026
Sudah dua tahun lamanya, kegiatan paling sakral bagi Mawar adalah berdiri di balik gorden jendela ruang tamunya setiap jam tujuh pagi.Dari celah kain penutup jendela yang sedikit berdebu itu, matanya selalu tertuju pada halaman rumah sebelah,di sana, Suharto.
Seorang duda beranak dua yang ramah, sedang menyiram tanaman bunga didepan rumahnya,Setiap kali Suharto menoleh ke arah rumah Mawar dan tersenyum,meski hanya menyapa angin,jantung Mawar selalu berdebar tidak karuan.
Sebagai seorang janda anak satu yang pernah terluka oleh masa lalu,Maaar tumbuh menjadi wanita yang sangat pemalu dan pendiam.Baginya, status mereka berdua seperti sebuah benteng besar yang tak kasat mata.
Jarak rumah mereka hanya dipisahkan oleh dinding beton,namun bagi Mawar jarak itu terasa laksana Samudra Hindia yang luas dan dalam.Dia terlalu takut untuk memulai percakapan, terlalu cemas akan penilaian orang-orang di sekitar Perum Griya Permai.
Mencintaimu dalam sunyi adalah cara paling aman agar aku tidak kehilanganmu sebagai tetangga,” bisik Mawar pada dirinya sendiri hampir setiap malam.Namun, rindu yang dipendam selama dua tahun itu perlahan menjelma menjadi api yang membakar dadanya sendiri.
Menyesakkan, Hingga pada suatu malam di hari Jumat, setelah menatap langit-langit kamar selama berjam-jam, Mawar merasakan sebuah keberanian nekat yang belum pernah dia miliki sebelumnya.Dengan jari yang gemetar hebat dan keringat dingin yang membasahi layar ponselnya, Sekar membuka aplikasi WhatsApp.
Dia mencari kontak bernama “Mas Suharto (Tetangga)”.Mawarmenarik napas dalam-dalam. Jarinya mulai mengetik. Kata demi kata mengalir, meruntuhkan seluruh gengsi dan rasa malunya yang dipelihara selama dua tahun ini.
Mas Suharto, maaf mengganggu malam-malam. Mungkin ini terdengar lancang. Tapi selama dua tahun ini, dari balik jendela rumah, saya selalu memperhatikan Mas.Saya menyimpan rasa kagum, rindu, dan cinta yang teramat dalam.
Maaf jika ketikan ini lancang, saya hanya tidak sanggup lagi memendamnya sendiri.”Tombol kirim ditekan. Detik itu juga,Mawar merasa dunianya berhenti berputar.
Ponselnya langsung ditelungkupkan ke atas kasur. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyesali kenekatannya sekaligus merasa lega.Hanya butuh waktu satu menit sampai ponsel di atas kasur bergetar pelan.Mawar memberanikan diri mengintip layar,Jantungnya hampir copot.
Dua centang abu-abu di sana telah berubah menjadi centang biru. Pesan itu sudah dibaca Detik demi detik berubah menjadi menit yang menyiksa. Di bagian atas layar, tidak ada tulisan “sedang mengetik…”. Status Suharto hanya “Online”, lalu menghilang, lalu muncul lagi.
Satu jam berlalu tanpa jawaban.Mawar mulai menangis dalam diam,Dia merutuki kebodohannya. Bagaimana kalau besok mereka berpapasan di depan pagar? Bagaimana kalau Suharto merasa tidak nyaman dan mengabaikannya?
Ketakutan-ketakutan itu membuat Sekar tertidur dengan sisa air mata di pipinya.Keesokan paginya, Sekar terbangun dengan perasaan berat. Dia sengaja melewatkan ritual jam tujuh paginya karena malu. Namun, tepat jam delapan pagi, terdengar ketukan pelan di pintu depannya.
Tok… Tok… Tok…Dengan langkah ragu dan jilbab yang dipakai terburu-buru,Mawar membuka pintu,Jantungnya bergemuruh hebat, Suharto berdiri di sana, mengenakan kemeja rapi, memegang sebuah mangkuk berisi bubur ayam hangat dan… sebuah ponsel di tangan kirinya.
Selamat pagi, Mbak Mawar,” sapa Suharto dengan senyum hangat khasnya.Mawar terpaku, lidahnya mendadak kelu. “P-pagi, Mas Suharto…”Suharto terkekeh pelan melihat kepanikan di wajah tetangganya itu.
Dia mengangkat ponselnya, memperlihatkan ruang obrolan WA mereka yang masih menampilkan pesan panjang dari Mawar semalam.”Maaf semalam saya tidak langsung membalas chat Mbak Mawar” kata Suharto lembut, matanya menatap lekat ke manik mata Mawar.
“Saya terlalu kaget, sekaligus sangat bahagia,Saya takut jika hanya membalas 🙋 ketikan teks, ketulusan saya tidak akan sampai.”Suharto menarik napas panjang, lalu melanjutkan.Mbak Mawar tahu? Selama dua tahun ini, alasan saya selalu menyiram tanaman di samping pagar rumah setiap jam tujuh tiga puluh pagi adalah dengan harapan Mbak Mawar keluar berangkat kerja saya bisa menyapanya.
Saya juga pengagum rahasia Mbak sejak lama.”Air mata Mawar menetes, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang membuncah.Pagar pembatas yang selama dua tahun ini terasa b
begitu tinggi, runtuh seketika hanya karena satu keberanian mengirim pesan malam itu.
(By Vandamme)



