Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,SALMI TELAH MENEMUKAN KEMBALI KABAHAGIAAN NYA, YANG SEMPAT HILANG.

10
×

CERPEN,SALMI TELAH MENEMUKAN KEMBALI KABAHAGIAAN NYA, YANG SEMPAT HILANG.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 23 MEI 2026

Gerimis belum sepenuhnya reda ketika Salmi mulai menyalakan kompor gas di sudut warung makannya. Bau harum tumisan bawang merah dan cabai langsung menguar, mengusir udara dingin yang sejak subuh mengepung pasar kota kecil itu.

Bagi Salmi, kepulan asap dapur ini adalah napas hidupnya yang baru.Lima tahun lalu, hidup Salmi runtuh,Pernikahan yang ia bangun dengan air mata berakhir dengan perceraian yang menyakitkan.

Mantan suaminya pergi begitu saja, meninggalkan luka batin yang teramat dalam dan rentetan janji manis yang ternyata palsu. Sejak hari itu,Salmi bersumpah pada dirinya sendiri untuk menutup rapat pintu hati.

Bukan karena ia membenci laki-laki, melainkan karena rasa takut yang teramat besar.Ia trauma, Ia takut jika ia membuka hati dan menikah lagi,badai yang sama akan kembali datang dan merenggut kebahagiaan yang susah payah ia bangun kembali.

Mbak Salmi nggoreng lelenya berapa ekor hari ini?” tanya Lastri, remaja tetangga yang kini membantunya di warung.Sama seperti kemarin, Las.Tiga puluh ekor dulu.

Nanti kalau kurang, kita goreng lagi,” jawab Salmi ramah, sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung jilbab.Warung makan “Sederhana Ibu Salmi” kini menjadi dunia barunya.

Di sinilah ia menumpahkan seluruh sisa energinya setelah badai masa lalu itu. Awalnya tidak mudah,Dengan modal seadanya dan sisa tabungan yang menipis, Asih harus belajar mandiri.

Ia belajar bangun jam tiga pagi, pergi ke pasar induk sendirian, memanggul belanjaan, dan meracik bumbu hingga jari-jemarinya kasar dan berbau ketumbar.

Namun, di tengah kelelahan fisik itu, Salmi menemukan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap piring nasi rames yang terjual, setiap pujian dari pelanggan yang mengagumi rasa masakan setianya, adalah obat bagi jiwanya yang sempat hancur.

Tentu saja, sebagai seorang janda yang masih tergolong muda, ujian tidak berhenti pada urusan dapur. Sering kali, beberapa pria,mulai dari sopir angkot yang sering mampir hingga mandor bangunan seberang jalan,mencoba melempar rayuan.

Ada yang datang dengan janji akan menafkahinya, ada pula yang menawarkan diri menjadi sandaran hidup agar ia tak perlu lelah bekerja keras lagi.Setiap kali godaan itu datang, bayangan masa lalu yang kelam kembali berkelebat di benak Salmi.

Ia hanya tersenyum tipis, lalu menolak dengan halus namun tegas.”Maaf, Kang. Fokus saya sekarang cuma membesarkan anak dan mengurus warung ini,” begitu jawaban andalannya.

Bagi Salmi, kebahagiaan kini memiliki arti yang berbeda,Bahagia bukan lagi tentang memiliki pundak seorang suami untuk bersandar. Bahagia baginya adalah saat ia bisa melihat periuk nasi di rumahnya selalu terisi beras dari hasil keringatnya sendiri.

Bahagia adalah ketika ia bisa menyekolahkan anak semata wayangnya tanpa harus mengemis bantuan pada siapa pun.sore itu, saat warung mulai sepi dan hujan di luar benar-benar reda, Asih duduk di kursi panjang warungnya.

Ia memandangi tangannya yang kini tak lagi sehalus dulu, namun ia tersenyum bangga. Di atas kaki sendiri, tanpa janji manis lelaki,Salmi telah menemukan kembali kebahagiaannya yang sempat hilang.Ia adalah perempuan yang merdeka di atas takdirnya sendiri.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *