NURJATINEWS.COM – KARAWANG 30 MEI 2026
Malam-malam setelah kepergian istri pertamaku selalu terasa panjang dan dingin. Sebagai seorang duda, aku terbiasa berjalan dalam sunyi, memikul rekam jejak masa lalu yang kelam.
Sampai suatu sore di sebuah toko buku kecil, takdir mempertemukanku dengan Aminah. Orang-orang di lingkungan kami menjulukinya “janda kembang”seorang wanita anggun yang menyendiri setelah pernikahan pertamanya kandas.
Namun bagiku, ia adalah sekuntum bunga yang merekah di tengah gersangnya hidupku.Senyum Aminah memiliki daya magis yang mampu menepis segala ragu di dadaku.
Kami yang sama-sama pernah terluka, menemukan penawar pada satu sama lain. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk memantapkan hati.
Kami menikah dalam sebuah upacara sederhana namun penuh khidmat.Sejak hari itu, rumahku kembali bernyawa.
Hari-hariku yang semula abu-abu berubah menjadi penuh warna. Tawa Aminah saat memasak di dapur, wangi kopi yang ia seduh setiap pagi, dan caranya menggandeng tanganku.
Saat berjalan-jalan sore membuatku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Kami berjanji untuk saling menyembuhkan luka masa lalu dan merajut masa depan bersama.
Namun, manusia hanya bisa merencana, dan Tuhan yang menentukan jalannya takdir.Tepat di usia pernikahan kami yang ketiga, badai itu datang tanpa peringatan.
Aminah jatuh sakit,Penyakit sialan itu menggerogoti tubuh ringkihnya dengan sangat cepat. Hanya dalam hitungan bulan, janda kembang yang dulu memancarkan kecantikan luar biasa itu mulai meredup.
Malam itu, di ruang ICU yang dingin, maut datang menjemputnya. Detik ketika layar monitor jantung itu menampilkan garis lurus, dadaku terasa sesak luar biasa.
Duniaku mendadak retak, hancur berkeping-keping. Aku meraung, memeluk tubuhnya yang perlahan mendingin, memohon pada Tuhan agar tidak mengambil kebahagiaan yang baru saja kurasakan tiga tahun ini.
Mengapa waktu yang dipinjamkan begitu singkat,Kini, aku berdiri di bawah rintik hujan, menatap gundukan tanah yang masih basah. Dinginnya tanah telah memeluk jasad wanita yang paling kucintai.
Hancur jiwaku menatap untaian nama Aminah yang terukir di atas nisan kayu itu.Aku kembali menjadi pria yang sepi, duduk di ruang tengah menatap kursi kosong yang biasa ia duduki.
Selamat jalan, bunga indah hatiku. Meski ragamu kini telah menyatu dengan bumi, cinta dan luka ini akan abadi di dalam dadaku.
(By Vandamme)



