Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,MALAM ITU PERBEDAAN AGAMA TIDAK LAGI MENJADI SEKAT YANG MEMISAHKAN MEREKA.

9
×

CERPEN,MALAM ITU PERBEDAAN AGAMA TIDAK LAGI MENJADI SEKAT YANG MEMISAHKAN MEREKA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 29 MEI 2026

Gerimis bulan Desember meluncur di kaca jendela, persis seperti air mata yang luruh di pipi Mawar dua tahun lalu. Di meja makan, sebuah kue tar kecil dengan lilin angka “4” menyala redup.

Empat tahun pernikahan, Bagi sebagian orang, itu angka yang muda. Bagi Suryadi, setiap detiknya adalah tumpukan karang yang dihantam ombak tanpa henti.Dua tahun pertama adalah neraka yang sunyi. Sebagai lelaki,Suryadi berada di patahan gempa yang hebat.

Di satu sisi, ada Mawar,wanita berhati malaikat yang bersujud menghadap altar, sementara ia sendiri melangkah menuju sajadah. Di sisi lain, ada gema suara ayahnya yang menggelegar dua tahun lalu, “Kalau kamu memilih dia, jangan pernah sebut nama Ayah lagi,Pintu rumah orang tua Suryadi tertutup rapat.

Selama dua tahun penuh,Suryadi dan Mawar merajut hari dalam sepi. Tanpa ucapan selamat Idulfitri, tanpa kunjungan saat Natal. Mereka hanya memiliki satu sama lain dan sebentuk doa yang, meski diucapkan dengan cara berbeda, bermuara pada nama Tuhan yang sama memohon ketabahan.

Mas, giliranmu menjaganya. Aku mau menidurkan Kakak,bisik Mawar lembut, membuyarkan lamunan Suryadi.Suryadi tersenyum, menatap bayi mungil yang menggeliat di dekapannya.

Anak kedua mereka baru berusia satu bulan, Kehadiran anak pertama, sekira dua tahun lalu, belum cukup kuat meruntuhkan dinding keras di hati orang tua Suryadi.Kala itu, ibunya hanya mengirim pesan singkat berisi doa, tanpa sudi datang menjenguk.

Ego tradisi dan dogma masih terlalu kokoh.Namun, takdir Tuhan selalu punya cara yang tak terduga.Terdengar ketukan di pintu rumah kontrakan mereka.Suryadi mengernyit. Ini sudah jam delapan malam, dan mereka tidak sedang menunggu kiriman paket.

Dengan perlahan agar sang bayi tidak terbangun, Suryadi melangkah membuka pintu.Saat daun pintu terbuka, lidah Suryadi seketika kelu. Udara malam yang dingin mendadak terasa membeku.

Di hadapannya, berdiri seorang lelaki tua dengan rambut yang memutih seluruhnya, didampingi seorang wanita paruh baya yang matanya sudah sembap. Ayah dan Ibunya.Ayah… Ibu…?” suara Suryadi bergetar, nyaris tak keluar.

Ibunya tidak menjawab. Pandangannya langsung luruh pada bayi mungil yang ada di gendongan Suryadi. Tanpa aba-aba, sang ibu melangkah maju, air matanya tumpah ruah. Cucu kedua Ibu…bisiknya dengan suara serak, menyentuh pipi lembut sang bayi dengan jemari yang gemetar.

Ayah Suryadi, lelaki yang biasanya tegak dan keras laksana batu karang, kali ini menunduk dalam. Bahunya terguncang. Ia melangkah mendekati Suryadi, lalu mendaratkan tangannya di pundak sang anak,sebuah sentuhan yang sudah empat tahun hilang dari hidup Suryadi.

Maafkan Ayah, Sur. Empat tahun Ayah menghukum kalian, tapi cinta dan sabar kalian justru mengajari Ayah arti ketulusan,” ucap Ayah dengan suara parau.Mawar keluar dari kamar tidur, tertegun melihat pemandangan di ruang tamu.

Jantungnya berdesir hebat, ada ketakutan yang sempat melintas. Namun, saat Ibu Suryadi berbalik dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arahnya, pertahanan Mawar runtuh.

Ia berlari ke pelukan ibu mertuanya, menangis sejadi-jadinya. Semua luka, penolakan, dan rasa lelah selama empat tahun ini menguap begitu saja dalam dekapan hangat itu.Malam itu, perbedaan agama tidak lagi menjadi sekat yang memisahkan mereka. Di depan senyum polos dua malaikat kecil yang tertidur lelap, semua amarah dan ego masa lalu lebur menjadi abu.

Dua doa berbeda yang dahulu dianggap bersimpangan, malam itu menyatu dalam satu rasa yang universal,syukur yang tak bertepi.Empat tahun berdarah-darah meniti duri, kini berbuah manis. Suryadi tahu, jalan di depan mungkin tetap tidak mudah. Namun kini, mereka tidak lagi berjalan dalam gelap. Restu keluarga telah datang, menjelma menjadi lentera yang menerangi sisa perjalanan panjang mereka.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *