Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,ESOK PAGI, IA AKAN NAIK BUS PERTAMA UNTUK PULANG KE TASIKMALAYA.

0
×

CERPEN,ESOK PAGI, IA AKAN NAIK BUS PERTAMA UNTUK PULANG KE TASIKMALAYA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COM – KARAWANG 24 MEI 2026

Lambaian Gunung Galunggung perlahan memudar di spion bus Budiman yang membawa Isah meninggalkan Tasikmalaya. Status janda di usia tua bukanlah perkara mudah di kampung halaman. Gunjingan tetangga dan himpitan ekonomi memaksanya nekat merantau ke Karawang.

Kota industri yang bising, berdebu, dan berhawa panas itu menjadi saksi bisu Isah memeras keringat sebagai buruh pabrik konveksi.Di kota rantau ini,Isah bertemu dengan Asep. Pria itu adalah seorang duda empat anak yang bekerja sebagai operator mesin di pabrik yang sama.

Kesamaan nasib sebagai orang yang pernah gagal dalam membina rumah tangga membuat keduanya cepat akrab.Asep adalah sosok yang hangat. Bagai oase di tengah gersangnya kota Karawang, kehadiran Asep setahun pertama berhasil menyembuhkan trauma masa lalu Isah.

Mereka menjalin kasih dengan penuh kedewasaan, merajut mimpi untuk menua bersama di tanah rantau.Namun, badai justru datang saat hubungan mereka menginjak tahun kedua. Sikap Asep berubah drastis.

Ponselnya mulai dikunci rapat, dan ia sering pulang terlambat dengan seribu alasan. Puncaknya,Isah mendapati kenyataan pahit yang menghancurkan dunianya.Asep ternyata menjalin komunikasi rahasia dengan mantan istrinya dan berencana untuk rujuk demi menuruti tuntutan keluarga besarnya.

Isah terpuruk dalam kehancuran yang teramat dalam. Pengkhianatan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada perceraian pertamanya. Dua tahun pengorbanan dan ketulusan yang ia berikan di Karawang berakhir dengan penolakan yang kejam.

Di dalam kamar kosnya yang sempit,Isah menangis sejadi-jadinya, meratapi nasibnya yang kembali terhempas.Sambil mengemas pakaiannya ke dalam koper,Isah menatap keluar jendela. Langit Karawang sore itu tampak mendung, seolah bersimpati pada nasibnya.

Ia menyadari bahwa perjalanannya di kota ini telah usai. Esok pagi, ia akan naik bus pertama untuk pulang ke Tasikmalaya. Karawang mungkin memberinya luka yang mendalam, namun sejuknya pelukan tanah kelahiran kini menantinya untuk menyembuhkan jiwa yang runtuh.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *