NURJATINEWS.COM – KARAWANG 24 MEI 2026
Aroma kopi hitam yang pekat menguar di ruang tamu di perumahan Pegadungan Puwasari,ruang tamu berukuran empat kali empat meter itu terasa sangat luas bagi Agus.Tidak ada barang barang yang berserakan di lantai.
Tidak ada coretan krayon di dinding putih yang masih bersih.Yang ada hanya sunyi yang mendengung, sesekali dipecahkan oleh suara motor yang lewat di depan rumah yang merupakan gang.
Baru setahun yang lalu hakim mengetukkan palu. Lembaran kertas dari pengadilan agama itu resmi menyudahi dua puluh lima tahun pernikahannya dengan Rodiah. Bagi orang luar,Agus mungkin dianggap kejam karena menggugat cerai ibu dari dua anaknya.
Namun, hanya dinding rumah lama mereka yang tahu seberapa besar batin Agus telah terkikis.”Uang bulanan segini mana cukup, Mas? Lihat jenggotan sebelah,istrinya bisa motor baru,pakai kalung dan gelang emas.
Kamu sudah bertahun-tahun kerja posisinya, penghasilannya cuma mentok di sini saja.
Kalimat-kalimat tajam Rodiah malam itu masih terngiang jelas. Bukan sekali dua kali.Setiap hari, rumah mereka dipenuhi oleh daftar tuntutan yang tak pernah usai.
Agus sudah memeras keringat,untuk memenuhi kebutuhanya,hingga jualan produk,bahkan melupakan rasa lelahnya sendiri.Namun di mata Rodiah, angka di rekening Agus selalu dinilai kurang.Rumah yang harusnya menjadi tempat bersandar setelah lelah mencari nafkah, justru berubah menjadi medan perang yang mencekam.
Agus bisa saja bertahan jika istrinya bisa bersabar,kedua anak sudah dewasa satu sudah berumah tangga, apanya yang kurang,Agus sering bersembunyi di balik pintu kamar sambil menangis.Agus tahu ia harus mengambil keputusan,Anak-anak sudah bisa Mandiri.
Bukan kemewahan yang dipaksakan, bisik Agus lirih hari itu, sebelum ia melangkah ke pengadilan.Kini, di rumah barunya, Agus memandangi sebuah kursi plastik tunggal di dekat jendela.Ia menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya.
Layar gawai itu menampilkan foto kedua putrinya yang sudah dewasa dan sedang tersenyum lebar.Statusnya sebagai suami memang telah runtuh di atas kertas, tetapi sampai kapan pun, statusnya sebagai ayah tidak akan pernah terhapus oleh hukum mana pun.
Ayah,kapan kita kumpul, Katanya mau bisnis Kopi dan parfum,Agus tersenyum, merasakan kehangatan yang seketika meruntuhkan dinding sunyi di sekelilingnya.Air matanya hampir menetes, namun ia cepat-cepat mengulas senyum terbaiknya.
Setelah obrolan berakhir,Agus menatap langit-langit kamar barunya dengan perasaan yang lebih ringan. Perpisahan ini memang menyakitkan, dan memulai hidup dari nol,di usia yang tak lagi muda sangatlah berat.
Namun melihat kedua anak-anaknya yang sudah dewasa,bisa mandiri tanpa bayang-bayang pertengkaran,Agus tahu langkah kaki yang ia ambil tidaklah salah. Di sini, di ruang sunyi ini, ia sedang membangun fondasi baru demi kedamaian mereka.
(By Vandamme)



