NURJATINEWS.COM – KARAWANG 15 JULI 2026
Senja itu di sebuah sudut kota, Aminah (janda, 54 tahun) duduk gugup di hadapan Jajat (duda, 50 tahun). Dengan berani,Aminah mengutarakan niatnya untuk mengajak Jajat menikah.
Ia merasa Jajat adalah sosok pria mapan yang cocok menjadi pendamping hidupnya.Jajat tertegun. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa tidak memiliki ketertarikan pada Aminah.
Alih-alih sang janda, pandangan Jajat justru tertuju pada Salmi, putri kandung Aminah yang berusia 30 tahun.Salmi adalah gadis mandiri, lembut, dan selama ini mengurus ibunya seorang diri.
Sikap Jajat berubah. Ia sering mencari alasan untuk mampir ke rumah demi menemui Salmi. Waktu terus berjalan, dan benih-benih cinta tumbuh di antara Jajat dan Salmi.
Tanpa diduga, Salmi pun menaruh hati pada kedewasaan dan perhatian Jajat.Namun, kenyataan ini menjadi petaka saat Jajat akhirnya melamar Salmi.
Amarah Aminah meledak.Ia merasa dikhianati dan dipermalukan. Bagi Aminah, Jajat telah lancang melompati dirinya. Sampai detik ini,Aminah bersikeras tidak memberikan restu atas hubungan mereka.
Jajat dan Salmi dihadapkan pada dilema besar. Cinta mereka terhalang oleh ego dan dinding restu seorang ibu.
Desember 2025 tiba.Udara dingin Subang menusuk tulang.Restu Aminah masih membatu.Jajat dan Salmi terpojok.Waktu terus berjalan.rencana nikah akhir tahun terancam batal.
Kebun teh Bukanagara diselimuti kabut tebal.Sedingin sikap Aminah yang masih mengunci diri di kamar.Jajat tidak menyerah.
Setiap akhir pekan, ia datang dari Kota Subang.Bukan membawa cincin, tapi membawa kesabaran.Ia bantu memanen mangga indramayu di halaman Aminah.
Ia perbaiki atap rumah Aminah yang bocor kena hujan barat.Semua dilakukan tanpa sepatah kata pun dari sang calon mertua.
Salmi menangis di dapur.”Kita batalkan saja, Kang. Aku tak mau jadi anak durhaka,” bisiknya lirih.Jajat menggenggam jemari Salmi, “Kita tunggu sampai malam pergantian tahun.
“Malam 31 Desember 2025.Petasan mulai bersahutan di langit Subang.Aminah akhirnya keluar kamar, wajahnya sembap.Ia menatap Jajat yang masih setia duduk di teras rumahnya yang dingin.
Aminah sadar,Jajat bukan merebut kebahagiaannya, Jajat justru hadir untuk menjaga putri semata wayangnya.”Jajat…” suara Aminah bergetar, memecah keheningan.
“Jika kamu sakiti Salmi, aku tidak akan tinggal diam.”Air mata Salmi tumpah,di awal Tahun 2026 ditutup dengan sebuah anggukan restu yang magis.
(By Vandamme)


