NURJATINEWS.COM – KARAWANG 10 JULI 2026
Gelas kopi di hadapan Rian sudah mendingin, seirama dengan angin sore yang berembus di kafe tepi kota itu. Di depannya, sebuah undangan pernikahan berwarna putih gading sengaja diletakkan terbuka.
Nama “Kirana” tercetak indah di sana, bersanding dengan nama lelaki lain.Rian menarik napas panjang. Rasanya sesak. Kamar hatinya seperti baru saja dihantam badai, menyisakan puing-puing harapan yang hancur berantakan.
Lima tahun merajut mimpi bersama, semua janji manis itu kini menguap menjadi debu yang menyesakkan dada.”Aku harus belajar melapangkan dada,” bisik Rian pada dirinya sendiri.
Kalimat itu ia rapalkan seperti mantra penenang.Ia tahu, meratapi puing-puing ini tidak akan mengubah takdir yang sudah digariskan. Perlahan, Rian mulai mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Ia tidak ingin mengubur diri dalam kebencian atau dendam. Cinta yang patah, pikirnya, bukanlah akhir dari napas hidupnya. Ia memilih untuk menata kembali batu bata hatinya yang berserakan.
Menjadikannya sebuah fondasi baru yang lebih kuat.Malamnya, dalam kesunyian kamar yang dingin, Rian bersujud. Di sela-sela hamparan sajadah, tidak ada lagi air mata amarah.
Rasa sakit itu perlahan luruh, berganti menjadi sebuah keikhlasan yang utuh.”Aku harus merelakan dia pergi,” gumamnya dalam hati.
Menggenggam Kirana terlalu erat hanya akan menggores luka yang lebih parah bagi mereka berdua. Rian memutuskan untuk melepas jemari Kirana dari seluruh angan-angan masa lalu.
Dalam ketukan malam yang sepi, Rian melangitkan sebuah doa lembut. Namanya masih ia sebut, namun bukan lagi untuk memohon agar Kirana kembali.
Yaa Tuhan, jaga dia. Semoga jalan baru yang ia tempuh penuh dengan cahaya. Semoga ia menemukan rumah yang selalu membuatnya bahagia,” lirih Rian dalam doanya.
Saat melangkah bangkit, dada Rian terasa jauh lebih ringan. Ruang kosong yang ditinggalkan Kirana kini tidak lagi terasa hampa, melainkan penuh dengan kedamaian.
Rian tersenyum tipis menatap langit malam dari balik jendela. Ia akhirnya paham, bahwa bentuk cinta tertinggi dan terdalam terkadang bukanlah memiliki, melainkan merelakan dan tulus mendoakan.
(By Vandamme)



