Ragam

KUTINGGALKAN RUMAH KELAM YANG PENUH TANGIS, KAKI MELANGKAH TEGAS MENUJU JAKARTA.

7
×

KUTINGGALKAN RUMAH KELAM YANG PENUH TANGIS, KAKI MELANGKAH TEGAS MENUJU JAKARTA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 07 JULI 2026

Di pundakku, dunia terasa begitu berat,Lima tahun berlalu, hati terus berkarat.Punya satu malaikat kecil yang harus ku jaga,Membuatku bertahan, menguatkan raga.

Aku masih muda, tapi wajahku lelah,Menahan pusing, pikiran yang pecah.Suami ada di sisi, tapi jarang memberi nafkah.

Tanganku sendiri yang harus mencari arah,Siang dan malam, keringatku menetes.Membeli susu, hingga beras pun tandas.

Aku menelan ludah, menahan perih di dada,Demi senyum anakku, pelita satu-satunya.Ya Tuhan, sampai kapan badai ini reda.

Aku lelah memikul janji yang hampa,Beri aku sabar tanpa batas dan jeda.Agar anakku tumbuh tanpa air mata.

Dua tahun berlalu, batas sabar telah habis,Kutinggalkan rumah kelam yang penuh tangis,Kaki melangkah tegas menuju Jakarta.

Membawa satu jiwa, mengubur sejuta luka,Mesin jahit konveksi kini jadi saksi.Deru suaranya menemani mimpi yang berganti,Jemari menari di atas kain dan benang.

Mencari nafkah halal agar hidup menjadi terang,Pusingku berganti menjadi peluh perjuangan.Bukan lagi meratapi suami tanpa tanggung jawab,Kulihat anakku kini mengenakan seragam sekolah.

Senyumnya membayar lunas segala lelah,Di celah bising Jakarta aku berdiri kuat.Menjahit masa depan anakku dengan erat,Biar tangan ini kasar dan badan penat,Asalkan pendidikan anakku tak pernah tersendat

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *