Ragam

CERPEN,KAMI BERTIGA AKAN MELANJUTKAN PERJALANAN INI DENGAN PENUH CINTA.

12
×

CERPEN,KAMI BERTIGA AKAN MELANJUTKAN PERJALANAN INI DENGAN PENUH CINTA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 06 JULI 2026

Matahari sore menyelinap di antara gorden kamar Naufal. Di usianya yang menginjak dua belas tahun, anak laki-laki itu sedang sibuk merapikan seragam pramukanya.

Dari luar kamar, lamat-lamat terdengar suara tawa seorang wanita berpadu dengan denting spatula dari arah dapur.Andra, sang ayah, bersandar di pintu kamar sambil menatap putranya.

Dadanya bergemuruh oleh rasa syukur yang luar biasa. Dua belas tahun lalu, di rumah sakit yang sama, Andra harus menghadapi kenyataan paling brutal dalam hidupnya.

Di tangan kanannya, ia memeluk bayi merah yang menangis kencang—Naufal. Di tangan kirinya, ia menggenggam jemari istrinya, Sari, yang perlahan mendingin.

Sari pergi selamanya tepat setelah memberikan seluruh sisa napasnya untuk melahirkan putra mereka.Sejak hari kelam itu, dunia Andra runtuh sekaligus menuntutnya tegak.

Selama sepuluh tahun penuh, Andra menjelma menjadi sosok ganda. Ia adalah ayah yang tegas mencari nafkah, sekaligus “ibu” yang belajar menyisir rambut Naufal.

Membuatkan bekal sekolah yang sering kali gosong di awal-awal percobaan, dan terjaga sepanjang malam saat Naufal demam. Setiap kali Naufal terlelap, Andra selalu menatap wajah putranya lama-lama.

Mata dan senyum Naufal adalah cetakan sempurna dari mendiang Sari. Di dalam sujud malamnya, Andra selalu menangis riris, berbisik pada sepi bahwa ia sangat merindukan istrinya.

Namun berjanji akan menjaga titipan mereka dengan seluruh nyawa,Tahun-tahun berlalu dengan ketabahan yang dipaksakan, hingga sebuah fajar baru datang dua tahun lalu.

Tuhan mempertemukannya dengan Arini. Arini bukanlah wanita yang ingin menghapus kenangan tentang Sari. Sejak awal bertemu, Arini justru mendatangi makam Sari.

Berbisik di depan nisan tanah itu bahwa ia akan ikut menjaga Naufal. Ketulusan Arini mencairkan tembok es di hati Andra, dan yang paling penting, meruntuhkan kecanggangan di hidup Naufal.

Hari pernikahan mereka dua tahun lalu adalah hari paling mengharukan. Tidak ada kemewahan berlebih, hanya ada ijab kabul yang khidmat.

Saat Andra mengucapkan janji suci, ia melirik ke sudut ruangan. Naufal berdiri di sana, mengenakan setelan jas kecil, tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, Naufal melihat ayahnya tidak lagi berdiri sendirian menghadapi dunia.”Ayah, Ibu sudah panggil.

Katanya makan malam sudah siap,” suara Naufal membuyarkan lamunan Andra.Andra tersenyum, mengacak rambut putranya dengan sayang.Yuk, kita ke meja makan.”Di ruang makan, Arini menyambut mereka dengan senyuman hangat.

Ia menuangkan nasi ke piring Naufal, lalu ke piring Andra, sebuah gestur sederhana yang dulu hanya ada dalam mimpi-mimpi sepi Andra.Rumah yang dulunya kaku dan sunyi, kini kembali hidup dengan aroma masakan dan tawa.Malam itu, saat melihat Arini dan Naufal bercanda di ruang tengah.

Andra menatap ke luar jendela, ke arah langit malam yang bertabur bintang. Di dalam hatinya, ia berbisik kepada Sari di keabadian: Tugasmu telah selesai dengan sempurna, sayang. Kini, aku tidak lagi mengeja sepi sendirian. Kami bertiga akan melanjutkan perjalanan ini dengan penuh cinta.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *