NURJATINEWS.COM – KARAWANG 29 JUNI 2026
Di bawah temaram lampu kamar sewaan yang pengap,Aku menitipkan nasib pada gemerlap mistis yang senyap.Dua puluh tahun lamanya, besi-besi gaib itu tertanam,Menjadikan tubuhku magnet pemikat di pekatnya malam.
Bukan pesona alami yang membuat mereka datang berbaris,Melainkan mantra sang dukun dan ritual penglaris.Setiap senyum yang kuumbar adalah persembahan palsu,Menutupi keriput usia yang disembunyikan oleh kaku.
Dua puluh tahun aku menjual ilusi dan peluh durjana,Mengikat pria-pria hidung belang dalam jerat pesona.Uang mengalir deras, menutupi rasa perih di dada,Namun ada harga gaib yang harus dibayar oleh raga.
Kini, cermin tua di sudut ruangan mulai berbicara jujur,Kecantikan abadi ini perlahan menagih hancurnya uzur.Kulit mulai menua, batin menjerit dalam rasa sakit yang perih,Tubuh yang dulu diagungkan, kini menanggung kutukan tak terpilih.
Malam ini, kutanggalkan semua ego dan perhiasan dunia,Mencabut jarum-jarum keramat yang menyesatkan jiwa.Dua puluh tahun terperangkap dalam pesona yang semu,Aku bersujud, memohon ampunan di sisa umur yang berlalu.
Lima tahun berlalu, masa keemasan itu runtuh tak bersisa.Tubuh yang dulu dipuja, kini membusuk dalam sisa usia.
Jarum-jarum gaib menolak lepas, tertanam di bawah kulit.Membawa rasa sakit yang membakar, membuat napas terasa sulit.
Kematian dalam Kesendirian,Pria-pria pemuja masa lalu pergi menjauh tanpa simpati.
Ranjang tempat mencari nafkah kini menjadi tempat mati.
Dokter angkat tangan, medis tak mampu membaca kutukan.Napas terakhir berhembus berat, membawa sejuta penyesalan.Kini rebutan keluarga dalam pertikaian dan permusuhan.
Tiada berkah yang tertinggal, hanya kutukan yang mengalir.Harta hasil peluh durjana habis terbakar di akhir.
(By Vandamme)



