NURJATINEWS.COM – KARAWANG 29 JUNI 2026
Malam itu pukul 03.00 pagi,dinginnya udara terasa mencekam.Suara angin yang menghantam dinding kayu rumah terdengar seperti bisikan penghakiman.
Di dalam kamar,Kang Jajang menatap Rodiah yang baru saja selesai membereskan sisa makan malamnya. Detak jantung Kang Jajang bergemuruh hebat, mengalahkan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Rodiah…” panggil Kang Jajang, suaranya parau dan bergetar. “Duduklah sebentar. Ada hal yang harus aku katakan. Aku tidak bisa mati membawa busuknya bangkai ini.”Rodiah tersenyum tipis, lalu duduk di tepi ranjang.
Ia menggenggam tangan suaminya yang dingin. “Ada apa, Kang? Jangan bicara soal kematian. Kamu pasti sembuh.”Air mata Aris langsung tumpah. Dengan bibir gemetar, ia mulai menjatuhkan bom yang selama ini ia sembunyikan.
Kang Jajang menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Tentang lima tahun penuh maksiat, tentang beberapa perempuan nakal yang ia tiduri di kota, dan tentang bagaimana ia memanfaatkan ketulusan serta kepercayaan Rodiah.
Untuk memuaskan nafsu bejatnya,Mendengar bait demi bait pengakuan itu, genggaman tangan Rodiah perlahan melonggar, lalu terlepas sepenuhnya. Udara di dalam kamar seketika terasa membeku.
Senyum hangat yang selama bertahun-tahun menghiasi wajah Rodiah lenyap, digantikan oleh tatapan kosong yang teramat dingin.”Lima tahun, Kang?” tanya Rodiah.
Suaranya sangat pelan, namun terdengar begitu mengerikan di tengah kesunyian malam. “Saat aku mendoakan keselamatanmu di setiap sujudku, kamu sedang tidur dengan wanita lain.
Kang Jajang hanya bisa menangis tersedu-sedu, mengangguk pasrah. “Aku khilaf,Rodiah.. Ini karmaku. Tolong ampuni aku…”Tidak ada histeria. Tidak ada piring yang pecah.
Rodiah berdiri dari tepi ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat akibat menahan badai emosi di dalam dadanya. Air matanya menetes satu per satu, membasahi pipinya yang mendadak pucat.
Ketulusan yang selama ini ia berikan runtuh menjadi puing-puing tak berbentuk.Rodiah menatap Kang Jajang dengan tatapan asing, seolah pria di ranjang itu bukan lagi suaminya, melainkan sesosok monster yang menjijikkan.
Aku merawatmu dengan seluruh jiwaku karena aku mengira kamu suami yang saleh,” ucap Rodiah, nadanya datar namun menusuk sedalam jurang pegunungan. “Ternyata, penyakitmu ini bahkan tidak sebanding dengan busuknya hatimu.
“Rodiah melangkah mundur menuju pintu kamar. Sebelum memutar knop pintu, ia membalikkan badan tanpa ada lagi sisa rasa cinta di matanya.”Besok, setelah aku memastikan ada kerabatmu yang datang untuk menjagamu.
Aku akan pergi,” kata Rodiah tegas, setiap kata diucapkan dengan keyakinan yang bulat. “Kita selesai,Kang.Urus penyakitmu sendiri. Aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.
Pintu kamar tertutup dengan ketukan yang pelan namun terdengar seperti vonis akhir bagi Kang Jajang.Di atas ranjangnya,Kang Jajang menangis meraung-raung dalam kesendirian.
Penyesalannya datang terlambat,Di tengah dinginnya malam itu, ia sadar telah kehilangan malaikat penjaganya, dan kini ia harus menghadapi sisa hidupnya dalam kehancuran mutlak.



