NURJATINEWS.COM – KARAWANG 27 JUNI 2026
Tiga tahun lamanya ku ukir luka di hatimu,Menabur duri di setiap langkah sucimu.Kututup mata dari air mata yang jatuh,Mengabaikan cinta yang tulus dan utuh.
Kini, waktu berputar menghakimiku tanpa ampun,Meninggalkanku dalam sunyi yang kian membendung.Setiap jengkal kesombongan yang dulu ku punya,Kini runtuh menjadi puing-puing karma.
Dulu kau ada, tegar memeluk lelah dan kecewa,Kini kau tiada, membawa pergi semua cahaya.Rumah kita kini dingin, hampa tak berpenghuni,Menyisakan sesal yang terus menggerogoti diri.
Ya, karma itu nyata adanya di dunia,Saat sang pencipta membalas setiap luka.Kutemukan diriku terduduk dalam sepi,Membayar mahal air mata yang pernah kau tetesi.
Puing-puing karma ini menjadi saksi bisu,Bahwa menyakiti hati istri adalah dosa yang menghantuiku.Kini ku bersujud, memohon ampun pada Ilahi,Meski bayangmu tak akan pernah kembali.
Dua tahun berlalu dalam bayang penyesalan,Kini tubuhku rapuh, terkulai tanpa kekuatan.Sakit ini datang bagai badai yang merenggut sisa raga,Memaksa diri membayar tunai setiap air mata.
Di atas ranjang sepi ku tatap langit-langit kamar,Mengingat jemari lembut mu yang dulu selalu sabar.Namun kini, hanya sunyi yang setia menemani,Meratapi raga yang kian hari kian mati.
Napas kian sesak, waktu terasa kian berujung,Dosa tiga tahun itu kini terasa begitu menggunung.Sebelum mata ini tertutup dan tak lagi terjaga,Kusebut namamu dalam maaf yang tak sempat kau raba.
Kini, puing-puing karma itu telah usai bertugas,Menjemput nyawa yang dulu angkuh dan culas.Sang suami telah pergi, menyatu dengan tanah dan sepi,Membawa penyesalan abadi yang kini dibawa mati
(By Vandamme)



