NURJATINEWS.COM – KARAWANG 26 JUNI 2026
Di usia tujuh bulan kandungan ini, kau pamit melangkah.Meninggalkan janji yang perlahan menjadi resah,Perutku membuncit, menanti dekapmu yang tak kunjung tiba.
Kutahan perih, melahirkan buah hati kita tanpa seorang ayah,Hari-hari kulalui berbalut sepi dan air mata.Membesarkan darah dagingmu yang mirip sekali dengan, parasmuSetiap kali anak kita bertanya di mana sang bapa.
Hanya senyum pahit yang mampu kusembunyikan di balik piluKini, penantian itu telah menginjak tahun ketujuh.Waktu yang panjang, menguji kesetiaan yang kian rapuh,Apakah kau di sana telah lupa pada janji suci kita.
Atau jarak telah membuatmu tak lagi mengingat rumah,Anakmu kini tumbuh besar, cerdas, dan tampan rupawan.Menatap dunia tanpa pernah mengenal bagaimana hangat pelukanmu,Pulanglah, suamiku…Pintu maafku selalu terbuka, sebelum lelahku menjadi batu.
Ketuban pecah bersama air mata yang tumpah,Malam merayap seiring rasa sakit yang kian parah.Di ranjang bersalin, aku bertaruh nyawa seorang diri,Menggenggam bantal, bukan tanganmu yang kunanti.
Suara tangis bayi pecah membelah sunyi kamar bersalin,Mata kecilnya mengerjap, mencari sosok yang berjanji hadir.Namun di pintu itu, bayangmu tetap tak kunjung datang,Hanya perih yang membeku, menggantikan dekap hangat yang hilang.
Aku mengecup keningnya, membisikkan maaf yang mendalam,Sebab sang ayah memilih pergi dan tenggelam dalam malam.Kugendang anakmu pulang ke rumah yang tak lagi utuh,Memulai langkah baru, meski hatiku telah lama runtuh.
(By Vandamme)



