Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,KISAH CINTA TIGA TAHUN MEREKA TETAP ABADI DAN HIDUP,TERPAHAT SELAMANYA DI LUBUK HATINYA

0
×

CERPEN,KISAH CINTA TIGA TAHUN MEREKA TETAP ABADI DAN HIDUP,TERPAHAT SELAMANYA DI LUBUK HATINYA

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 26 JUNI 2026

Bagi M Suryadi, berita terbaik sepanjang karier jurnalistiknya bukanlah saat ia memenangkan penghargaan penulisan investigasi.

Berita terbaik itu tercetak di atas kertas konveksi merah jambu sebulan yang lalu, sebuah undangan pernikahan. Di sana tertera namanya bersanding dengan Rodiah,Kepala Desa Sukacinta.

Hubungan mereka dimulai tiga tahun lalu. Sebagai jurnalis media nasional, M Suryadi awalnya datang ke desa itu untuk meliput konflik lahan.

Di balai desa Sukacinta, ia bertemu Rodiah pemimpin muda yang tenang, tegas, dan selalu mengenakan kaku seragam cokelat dinasnya dengan bersahaja.

Selama tiga tahun, cinta mereka tumbuh di antara riuh redaksi dan ketenangan pematang sawah. M Suryadi jatuh cinta pada cara Rodiah mendengarkan keluh kesah warga.

Sementara Rodiah terpikat pada ketajaman pikiran M Suryadi yang dituangkan lewat ujung pena.Namun, ruang redaksi kehidupan selalu punya cara mendadak untuk memutus sebuah berita.

Sore itu, gawai M Suryadi bergetar hebat di atas meja kerja. Telepon dari sekretaris desa. Suara di seberang sana terputus-putus oleh tangis.

Rodiah mengalami kecelakaan fatal saat dalam perjalanan pulang dari pertemuan dinas di kota. Jantung M Suryadi seolah berhenti berdetak.

Pena di genggamannya jatuh, tintanya merembes merusak draf artikel yang sedang ia susun.Malamnya, M Suryadi berdiri di tengah kepungan warga Desa Sukacinta yang berduka.

Lonceng balai desa bertalu-talu membawa pilu yang pekat. Halaman rumah dinas yang sedianya akan didekorasi menjadi tempat resepsi bulan depan, kini penuh dengan bendera kuning dan hamparan tikar duka.

M Suryadi melangkah mendekati jenazah wanita yang paling dicintainya.Rodiah terbujur kaku. Tidak ada lagi senyum hangat yang biasa menyambutnya di batas desa.

Selama ini, M Suryadi adalah jurnalis yang dikenal dingin dan sanggup menulis laporan tragedi paling berdarah sekalipun tanpa meneteskan air mata.

Namun di depan tubuh kaku Rodiah, jemarinya gemetar hebat. Pena jurnalisnya terasa tumpul. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menuliskan kata “selamat tinggal” di dalam hatinya sendiri.

Kang M Suryadi, bisik seorang warga tua sambil menyerahkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit milik Rodiah. “Ini ditemukan di tas ibu. Beliau berniat memberikannya pada Kang M Suryadi malam ini.”

M Suryadi membuka halaman pertama dengan air mata yang luruh tanpa bendung. Di sana, dengan tulisan tangan Rodiah yang rapi, tertulis.

Untuk calon Suamiku, jurnalis peliput hatiku. Terima kasih sudah menemaniku menata desa ini selama tiga tahun. Mari kita tulis babak baru kehidupan kita bersama, selamanya.

M Suryadi memeluk buku catatan itu erat-erat di dadanya. Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi, dan takdir telah menghapus nama Rodiah sebagai mempelai wanita.

Namun M Suryadi tahu, meski raga sang kepala desa kini telah menyatu dengan tanah desa yang dicintainya, kisah cinta tiga tahun mereka akan tetap abadi dan hidup,terpahat selamanya dalam catatan paling suci di lubuk hatinya.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *