NURJATINEWS.COM – KARAWANG 13 JUNI 2026
Papan nama di meja kerja itu masih bersih mengkilap, Yayat Hidayat. Namun, bagi pemiliknya, kilau itu telah pudar sejak lama. Lima belas tahun menghabiskan waktu di dalam ruangan berpendingin udara, mengenakan kemeja rapi yang selalu disetrika licin, dan mematuhi tumpukan instruksi atasan.
Perlahan memunculkan rasa jenuh yang mendalam. Yayat merasa hidupnya berjalan seperti mesin yang bergerak statis.Hingga suatu malam, di usianya yang makin matang, Yayat membulatkan tekad.
Ia mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan tempatnya mengabdi selama satu setengah dekade. Rekan-rekan kerjanya terkejut, menganggap keputusannya terlalu berisiko. Namun, Yayat tahu persis apa yang ia cari, kemerdekaan atas hidupnya sendiri.
Yayat memilih pulang ke kampung halamannya di Wangon, Banyumas. Dengan modal tabungan dan pesangon yang ia kumpulkan, ia memulai segalanya dari nol. Lahan kosong di belakang rumahnya disulap menjadi area budidaya ikan.
Ia turun tangan sendiri menggali tanah, menyiapkan terpal, dan mempelajari karakter air.Tidak tanggung-tanggung, Yayat membagi kolam-kolamnya untuk tiga jenis ikan, nila yang lincah, lele yang tangguh menghadapi segala cuaca, dan gurame yang butuh kesabaran ekstra namun bernilai tinggi.
Di saat yang sama, ia memanfaatkan bagian depan rumahnya untuk membuka toko sembako kecil-kecilan.Tahun-tahun pertama adalah ujian terberat. Kulit Yayat yang dulunya bersih khas orang kantoran, kini berubah legam terbakar matahari Wangon.
Tangannya yang biasa memegang pulpen dan mengetik kibort, kini akrab dengan karung pakan ikan dan tumpukan beras. Kadang ia lelah, namun senyum tulus tetangga yang berbelanja sembako di tokonya, serta gemercik air kolam saat ikan-ikannya diberi makan, selalu menjadi obat penawar yang ampuh.
Ia tidak lagi dikejar target perusahaan; kini ia mengejar impiannya sendiri.Waktu bergerak cepat tanpa kompromi. Sepuluh tahun telah berlalu sejak Yayat pertama kali menebar benih ikan pertamanya di Wangon.
Hari ini, suasana di kediaman Yayat sangat berbeda. Toko sembako yang dulunya kecil dan bersahaja, kini telah menjelma menjadi grosir sembako terbesar di wilayahnya, ramai dikunjungi pembeli dari berbagai desa.
Raknya kokoh menjulang, dipenuhi barang kebutuhan pokok yang tertata sangat rapi.Di area belakang, kolam-kolam tradisionalnya telah berubah menjadi kawasan kemitraan budidaya perikanan yang modern.
Yayat kini bukan lagi sekadar peternak lokal, melainkan pemasok utama ikan nila, lele, dan gurame untuk restoran dan pasar-pasar besar di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
Sore itu, Yayat berdiri di tepi kolam gurame nya yang luas, memandangi pantulan langit senja di permukaan air. Ia tidak lagi memakai dasi atau kemeja kantoran, melainkan kaus oblong santai dan celana pendek. Sambil melempar segenggam pakan ke dalam kolam.
ia tersenyum lebar melihat ikan-ikannya berebutan muncul ke permukaan.Sepuluh tahun berlalu membuktikan bahwa keberaniannya meninggalkan zona nyaman tidak sia-sia. Di tanah Wangon ini, Yayat Hidayat tidak hanya berhasil membangun sebuah usaha yang maju dan berkembang pesat, tetapi ia telah berhasil menjadi juragan atas nasibnya sendiri.
(By Vandamme)



