Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,SORE ITU,IBU ECIN KURAESIN DUDUK DI BERANDA RUMAH,MENIKMATI SECANGKIR TEH HANGAT.

12
×

CERPEN,SORE ITU,IBU ECIN KURAESIN DUDUK DI BERANDA RUMAH,MENIKMATI SECANGKIR TEH HANGAT.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 13 JUNI 2026

Lantunan ayat suci Al-Qur’an selalu menjadi bagian dari napas ibu Ecin Kuraesin. Di sebuah sudut tenang di Tasikmalaya, masa mudanya dihabiskan sebagai seorang guru ngaji. Dengan penuh kesabaran, jemari lentiknya menuntun anak-anak kecil mengeja huruf demi huruf hijaiyah.

Suaranya yang ramah dan pembawaannya yang sangat keibuan membuat surau kecil itu selalu dirindukan. Namun, takdir memiliki selembar peta baru untuknya.Suatu hari, takdir menautkan hatinya dengan seorang lelaki asal Purwakarta.

Pernikahan itu membawanya hijrah, meninggalkan tanah kelahiran menuju tempat baru untuk membangun biduk rumah tangga. Dua puluh tahun lamanya mereka mengarungi bahtera bersama. Dua puluh tahun yang penuh dengan rida, bakti, dan kehangatan yang tak lekang oleh waktu.

Dari pernikahan suci itu, mereka dikaruniai lima orang anak—lima pelita hati yang menjadi sumber kekuatan utama ibu Ecin.Kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Demi menopang ekonomi keluarga dan memastikan masa depan kelima anaknya, Ecin dan suaminya membuka sebuah warung kecil.

Selama sepuluh tahun penuh, Ecin menghabiskan hari-harinya di warung itu. Menyapa pelanggan dengan senyum ramahnya yang khas, menghitung recehan, dan menahan lelah demi pendidikan anak-anaknya.

Warung itu menjadi saksi bisu betapa tangguhnya seorang ibu Ecin sebagai seorang ibu.Namun, badai terhebat datang tanpa mengetuk pintu. Sang suami tercinta, belahan jiwanya selama dua dekade, dipanggil pulang oleh Sang Pencipta.

Kehilangan itu menjadi pukulan yang teramat berat. Warung yang biasanya ramai terasa sunyi, dan separuh jiwanya seolah ikut pergi. Di tengah kedukaan yang mendalam, jiwa keibuan ibu Ecin bangkit.

Ia tahu ia tidak boleh runtuh; ada lima pasang mata yang masih membutuhkan dekapannya. Dengan iman yang erat di dada, ia tegak berdiri melanjutkan perjuangan seorang diri.Waktu terus bergulir, menghapus air mata dan menggantinya dengan kebanggaan.

Satu per satu, kelima anaknya tumbuh dewasa, meraih impian, hingga akhirnya semuanya menikah dan membina rumah tangga masing-masing. Tugas besar ibu Ecin sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya telah tunai dengan sangat indah.

Kini, di usianya yang senja, tak ada lagi beban berat di pundak Ibu Ecin. Warung sepuluh tahun itu telah menjadi kenangan manis, dan rindu pada almarhum suaminya telah menjelma menjadi doa-doa yang tenang di setiap sujudnya.

Sore itu, Ibu Ecin duduk di beranda rumah, menikmati secangkir teh hangat. Guratan di wajahnya tidak memudarkan keramahan yang sejak dulu ia miliki. Ia memandangi ponselnya, tersenyum melihat foto cucu-cucunya yang baru saja dikirimkan oleh anak-anaknya.

Di masa tua ini, ia benar-benar menikmati hidup yang damai, memetik buah manis dari pohon keikhlasan yang ia tanam puluhan tahun lalu. Senjanya kini berkilau, seindah permata yang penuh berkah.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *