NURJATINEWS.COM – KARAWANG 10 JUNI 2026
Aroma tanah basah Cilacap setelah hujan selalu berhasil menenangkan jiwa Mas Dedi Purnomo,Sudah genap satu tahun ia berada di rumah, menikmati hasil jerih payahnya memeras keringat selama sepuluh tahun di pesisir Lampung.Rumah permanen yang layak sudah berdiri, dan tabungannya lebih dari cukup. Di Cilacap, ia sempat membuka usaha kecil untuk mengisi hari.
Namun, bagi seorang lelaki yang separuh usianya ditempa oleh angin rantaian, kenyamanan perlahan-lahan justru terasa seperti tungku yang mematikan semangat juang.Setiap malam, saat menatap gunting-gunting tajam dan mesin cukur yang tersusun rapi di kamarnya, jemari mas Dedi Purnomo bergetar.
Jiwa perantaunya belum sepenuhnya padam. Ia merindukan tantangan, merindukan suara pelanggan baru, dan merindukan kepuasan saat melihat perubahan wajah seseorang setelah rambutnya dirapikan.”Karawang, Mas. Di sana kota industri. Ribuan buruh pabrik butuh tampil rapi setiap hari,” bisik seorang kerabatnya suatu sore.
Kalimat itu menancap kuat di kepala mas Dedi Purnomo,Maka setelah meminta restu ibunya mas Dedi Purnomo kembali mengemas tas jinjingnya. Kali ini tujuannya bukan lagi pelabuhan atau suara deburan ombak pesisir Sumatra, melainkan deru mesin dan kepulan asap pabrik di Jawa Barat.
Karawang Awal kedatangannya di Karawang memberikan kejutan dari yang cukup besar bagi mas Dedi Purnomo Jika di Lampung ia terbiasa dengan ritme hidup nelayan yang santai dan bergantung pada cuaca, di Karawang semuanya bergerak serbacepat. Manusia-manusia di kota ini berjalan terburu-buru, dikejar oleh jam lembur dan target produksi.
Mas Dedi Purnomo menyewa sebuah ruko kecil di Perum Taman Griya Permai Blok C dekat pasar Remetuk, Di depan rukonya, bukan lagi pemandangan perahu nelayan yang bersandar, melainkan suara sepeda motor para pekerja dan pedagang yang lalu lalang di jalan raya setiap jam pulang kerja.
Bulan-bulan pertama adalah masa adaptasi yang menguras energi,mas Dedi Purnomo harus mempelajari selera potongan rambut para para pelanggan muda yang dinamis dan orang tua dan selalu ingin mengikuti tren terbaru. Beruntung, modal mentalnya selama 10 tahun di Lampung membuat mas Dedi Purnomo tidak mudah goyah.
Keramahan tutur kata khas Cilacap yang ia miliki justru menjadi daya tarik tersendiri di tengah kerasnya kota Karawang Kini, tidak terasa sudah satu tahun sudah Salon Cukur Baraya berdiri di Karawang. Usaha itu telah berjalan stabil dan memiliki tempat tersendiri di hati para pelanggannya.
Setiap pagi,sore, ruko Rahmat selalu ada Pelanggan yang datang membawa cerita yang berbeda dari para nelayan Lampung dulu. Di atas kursi cukur mas Dedi Purnomo, mereka bercerita tentang Karawang dan budayanya, atau harapan-harapan yang mereka kirimkan untuk keluarga di kampung halaman masing-masing.
mendengarkan dengan penuh empati, sembari jemarinya dengan cekatan memotong rambut mereka dengan rapi.Di akhir pekan yang sibuk, mas Dedi Purnomo sering berdiri di ambang pintu rukonya, menatap hamparan perumahan,sawah yang menghijau, Karawang yang berdampingan dengan pasar yang ramai apalagi hari Minggu padat.Ia tersenyum tipis, meraba kantong celananya yang kini selalu terisi dari hasil usaha satu tahun ini.
Dulu ombak Lampung yang menemani masa mudanya yang penuh perjuangan, kini riuh kota Karawang yang memberinya keberkahan di masa dewasa. Dua tanah rantau yang berbeda telah mengajarkan mas Dedi Purnomo satu hal penting, bahwa kesuksesan tidak pernah memilih tempat, ia hanya memilih orang-orang yang tidak pernah lelah melangkah.
(By Vandamme)



