NURJATINEWS.COM – KARAWANG 08 JUNI 2026
Angka 24 pernah menjadi angka favoritku.Dua puluh empat bulan, atau tepat dua tahun, aku menghabiskan waktu bersama Randy.Saat hubungan kami dimulai, usiaku 26 tahun dan Randy 50 tahun.
Dunia sempat riuh menuduhku mencari figur ayah, atau menuduh Randy memanfaatkan kemudaanku. Mereka tidak tahu betapa dewasanya kami saling menyembuhkan.
Randy adalah pelabuhan tenang bagi hatiku yang meledak-ledak. Bersamanya, perbedaan usia 24 tahun itu melebur dalam diskusi senja dan cangkir kopi yang hangat.
Namun, badai sesungguhnya justru datang saat kami melangkah ke tahun ketiga.Sore itu, Ibu memintaku pulang ke rumah. Ibu,seorang janda yang telah menghidupiku sendirian sejak ayah wafat sepuluh tahun lalu, tampak berdandan lebih rapi dari biasanya.
Ada rona bahagia di wajahnya yang mulai dimakan usia.”Salmi, Ibu ingin mengenalkan seseorang,” bisik Ibu lembut, matanya berbinar. “Ibu merasa sepi ini sudah harus berakhir.
Dia pria yang sangat matang, bijaksana,dan Ibu rasa kamu akan cocok mengobrol dengannya.”Jantungku berdegup hangat, Aku ikut bahagia untuk Ibu.Aku bahkan sudah berencana, setelah momen perkenalan ini sukses, aku juga akan membawa Randy untuk menghadap Ibu.
Kami sudah sepakat untuk membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan.Pintu rumah diketok,Ibu bergegas membukanya dengan senyum merekah.Silakan masuk, Mas,” suara Ibu terdengar begitu manja,nada yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku berdiri dari sofa, memasang senyum terbaikku untuk menyambut calon ayah tiriku.Namun, senyum itu membeku di udara.,Langkahku lumpuh. Pria yang berdiri di ambang pintu, membawa sebuket bunga seruni kesukaan Ibuku, adalah Randy.
Pria yang semalam baru saja mengecup keningku dan membisikkan kata cinta.Randy sama terkejutnya. Pandangannya terkunci pada mataku, lalu beralih pada foto masa kecilku yang terpajang di dinding ruang tamu.
Wajahnya mendadak pias, memutih seperti kertas. Dalam detik yang mencekam itu, sebuah rahasia besar runtuh menimpa kami berdua,Randy tidak pernah tahu nama lengkap Ibuku, dan Ibu hanya mengenal Randy lewat jaringan pertemanan bisnis tanpa pernah melihat foto kekasih anaknya.
Salmi, kenalkan,ini Om Randy, Ibu memecah keheningan, tanpa menyadari perang batin yang sedang menghancurkan sisa hidupku.Malam itu berjalan seperti mimpi buruk yang berjalan lambat.Aku berpura-pura ke kamar mandi hanya untuk menangis tanpa suara, membekap mulutku dengan handuk agar jeritanku tidak pecah.
Bagaimana bisa takdir sebercanda ini?, Lelaki tempatku menyerahkan hati selama dua tahun terakhir, kini duduk di ruang tamu sebagai calon suami Ibuku.Dua hari kemudian, aku meminta bertemu Randy di taman kota, tempat biasa kami menghabiskan akhir pekan.
Suasana terasa asing dan dingin.Maafkan aku, Salmi, Aku benar-benar tidak tahu,” suara Randy bergetar berat. Garis-garis di wajah manusianya yang biasa kukagumi, kini terlihat penuh rasa bersalah yang amat dalam.
“Ibumu wanita yang baik,Kami bertemu di seminar bisnis, dan… aku merasa kami berada di fase hidup yang sama. Aku harus membatalkan pernikahan ini.Jangan,” kataku, lirih namun tegas.Air mataku menetes, tapi pandanganku lurus.
Ibu sudah sepuluh tahun sendirian, Aku belum pernah melihat matanya sehidup itu lagi setelah Ayah pergi. Jika kamu membatalkannya tanpa alasan jelas, Ibu akan hancur.Tapi bagaimana dengan kita? Dua tahun ini,Salmi,Randy meraih tanganku, namun aku menariknya perlahan.
Dua tahun kita sudah selesai di detik kamu melangkah ke rumahku sebagai pilihan Ibu,” jawabku, merasakan hatiku patah menjadi berkeping-keping.Aku tidak akan membiarkan Ibu tahu bahwa pria yang dicintainya adalah mantan kekasih anaknya sendiri.
Biarlah rahasia ini mati di antara kita berdua.”Tiga bulan kemudian, janur kuning melengkung di depan rumah kami.Aku berdiri mengenakan kebaya seragam, tersenyum di hadapan para tamu undangan. Aku melihat Ibuku tersenyum sangat bahagia, menggandeng lengan Randy yang kini resmi menjadi suaminya.
Saat giliran bersalaman di pelaminan, aku mendekat. Kupeluk Ibu dengan erat, menahan air mata agar tidak merusak riasanku. Kemudian, aku berbalik menghadap Randy. Aku mengulurkan tangan, mencium punggung tangannya dengan takzim.
Selamat menempuh hidup baru… Ayah,” bisikku.Randy memejamkan mata erat, ada setitik air yang tertahan di sudut matanya.Hari itu, aku tidak hanya kehilangan seorang kekasih, tapi aku harus belajar menerima kehadirannya setiap hari sebagai bagian dari keluargaku.Di usiaku yang ke-27 nanti, aku harus belajar melapangkan dada di atas puing-puing cinta yang terpaksa diikhlaskan.
(By Vandamme)



