NURJATINEWS.COM – KARAWANG 08 MEI 2026
Sore itu, harum hujan yang baru turun menyentuh tanah kering, persis seperti suasana hati Mawar. Di tangannya, seangkring teh hangat mengepulkan asap tipis.
Tiga tahun lalu,Mawar masih sering menangis di sudut kamar ini, meratapi kepergian suaminya. Saat itu, ia sempat mengenal seorang pria,seorang duda cerai mati yang memahami betul rasa kehilangan yang sama.
Mereka sempat bermimpi merajut esok bersama. Namun, takdir rupanya belum menuliskan bab baru. Pria itu pergi karena tugas negara, dan komunikasi mereka luruh digilas waktu.
Kini, waktu melesat tanpa permisi.Tiga tahun berganti menjadi lima tahun kesendirian.Teman-teman sebayanya sibuk berseloroh tentang kapan Mawar akan mengakhiri masa jandanya.
Dulu, pertanyaan itu seperti sembilu. Sekarang? Mawar hanya tersenyum tipis. Lima tahun telah menempanya menjadi wanita yang matang.Rasa menggebu-gebu untuk menikah lagi telah luruh, berganti menjadi kepasrahan yang teramat tulus kepada Sang Pemilik Hidup.
Jika memang masanya belum tiba, aku tidak akan memaksa,” bisik Mawar pada angin sore. Ia tidak merasa runtuh. Sendiri telah mengajarkannya arti utuh tanpa harus bergantung pada kehadiran orang lain.
Malamnya, usai bersujud di sepertiga malam, ponsel Mawar bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat:“Assalamualaikum,Mawar. Maaf atas lima tahun tanpa kabar.
Tugasku di pedalaman baru benar-benar selesai. Bolehkah besok aku dan keluarga berkunjung ke rumahmu?”Nama pengirimnya tertera di akhir pesan. Pria itu.Sang duda yang dulu hampir mengeringkan air matanya.Air mata Sekar menetes, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena ia tahu, pasrahnya telah berbuah jawaban yang paling indah.
(By Vandamme)



