NURJATINEWS.COM – KARAWANG 01 JUNI 2026
Sudah dua tahun lamanya, sudut kamar Fatoni menjadi saksi bisu perjuangan melawan jarak. Di ruangan itulah, setiap malam ia hanya bisa menatap bias wajah asmara hatinya,Salma , melalui layar ponsel yang berpendar.
Salma memilih merantau ke luar daerah demi mengejar impian kariernya. Bagi Fatoni, setiap dering panggilan telepon adalah oase di tengah gersangnya penantian.
Walau temu hanya sebatas maya dan tak bisa terjamah indra, suara Salma lewat pengeras suara sudah cukup untuk mengobati sesak di dadanya.”Bertahanlah sejenak di sana, Jaga langkahmu dalam doa-doa setiaku,” bisik Rangga dalam hati setiap kali panggilan video mereka berakhir.
Ia selalu berjanji pada diri sendiri bahwa jarak ini hanyalah ujian sebelum mereka menyatu.Waktu bergulir lambat, namun kesabaran Fatoni tidak pernah luntur. Hingga akhirnya, kalender di dinding menunjukkan tepat dua tahun sejak keberangkatan Salma.
Hari yang dinanti itu tiba, Hari di mana tanah rantau mengembalikan Salma ke pelukannya.Fatoni berdiri gelisah di pintu kedatangan stasiun.Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Saat sesosok wanita dengan koper besar berjalan keluar dan menatap ke arahnya, waktu seolah berhenti. Itu Salma.
Bayangan yang biasanya terkunci di balik layar kaca kini berdiri nyata, seutuhnya.Salma tersenyum, matanya berkaca-kaca.Fatoni melangkah mendekat, mengakhiri sunyi yang selama dua tahun ini merajai dada
Namun,Fatoni tahu ia tidak ingin lagi membuang waktu. Ia tidak mau lagi membiarkan jarak mencuri detik-detik berharga mereka.Fatoni tidak ingin ada lagi koper yang dikemas Salma di depan pintu.
Tepat di hadapan Salma, di tengah hiruk-pikuk stasiun, Fatoni merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin yang berkilau. Penentu arah masa depan mereka.Salma terkesiap, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Fatoni menatap lekat mata wanita yang sangat dirindukannya itu. “Cukup sudah dua tahun kita berteman dengan rindu,Salma. Perantauanmu sudah selesai di hatiku,Maukah kau menua dan menikah bersamaku.
Air mata bahagia Fatoni luruh mendengarnya, Anggukan mantap dari Salma menjadi jawaban atas segala doa dan penantian panjang mereka. Hari itu, di tempat mereka kembali bertatap mata, rindu resmi berubah menjadi ikatan suci menuju pelaminan.
(By Vandamme)



