NURJATINEWS.COM – KARAWANG 30 MEI 2026
Bagi orang-orang di kampungnya,Mawar adalah sebuah teka-teki, sekaligus bahan rasan-rasan yang tak pernah habis. Dalam kurun waktu lima tahun, ia sudah empat kali naik ke pelaminan, dan empat kali pula ia berjalan keluar dari pengadilan agama dengan status janda.
Hobi kok kawin-cerai,” bisik tetangga setiap kali melihat Mawar berdandan rapi.Namun, tak ada yang benar-benar tahu apa yang bergejolak di dada Mawar.
Pernikahan pertama hancur karena pengkhianatan. Yang kedua kandas karena kekerasan. Yang ketiga dan keempat runtuh akibat ego yang sama-sama keras. Setiap kali ia gagal, Mawar selalu meyakinkan diri bahwa pernikahan berikutnya adalah jawaban atas kesepiannya.
Ia tidak berniat mempermainkan sakralnya akad, ia hanya wanita rapuh yang terlalu terburu-buru mencari rumah untuk berteduh.Setelah perceraiannya yang keempat,Mawar mengunci diri.
Sepuluh tahun berikutnya adalah masa-masa ia berbenah diri. Ia berhenti mencari. Dalam kesendirian yang panjang itu,Mawar akhirnya insaf. Ia menyadari bahwa sebelum mencintai orang lain, ia harus berdamai dengan masa lalunya yang carut-marut.
Di usia yang tak lagi muda, saat rambutnya mulai disusupi satu dua helai uban,Mawar bertemu dengan Sandy. Lelaki itu sederhana, pembawaannya tenang, dan memiliki tatapan mata yang meneduhkan.
Sandy tahu persis seluruh lembaran hitam masa lalu Mawar Namun, alih-alih menghakimi,Syandy justru mengulurkan tangan.”Aku tidak mencari masa lalumu,Mawar.
Aku mencari masa depan bersamamu,” ucap Sandy sore itu di sebuah kedai kopi kecil.Pernikahan kelima Mawar digelar sangat sederhana, tanpa pesta pora, hanya dihadiri keluarga inti. Tidak ada lagi letup-letup asmara yang menggebu seperti masa mudanya, yang ada hanyalah rasa tenang yang mengalir deras.
Sandy membuktikan ucapannya. Ia menjadi tiang yang kokoh saat badai rasa trauma Mawar datang, dan menjadi pendengar yang baik atas semua keluh kesah.Dua puluh tahun berlalu sejak hari itu.
Kini, di teras rumah mereka yang asri,Mawar duduk di kursi goyang sambil merajut syal. Rambutnya sudah memutih seluruhnya. Di sampingnya,Sandy dengan setia menuangkan teh hangat ke cangkirnya. Kulit mereka sudah keriput, namun genggaman tangan mereka justru semakin erat.
Mawar menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa syukur. Pencarian panjang yang melelahkan itu telah usai. Di samping Sandy, ia tidak hanya menemukan seorang suami, tetapi juga tempat untuk menua bersama dalam damai dan kesetiaan yang abadi.
(By Vandamme)



