NURJATINEWS.COM – KARAWANG 26 MEI 2026
Di bawah terik yang membakar pundak,Bapak menghitung sisa receh yang beranjak.Dari upah kuli yang tak seberapa,Ada niat suci yang terus menyala.
Setiap sen yang jatuh di celengan bambu,Adalah doa dan rindu yang menggebu.Bapak menahan lapar, menolak lelah,Demi seekor domba di hari berkah.”Jangan kurangi jatah makan hari ini, Bu,”Ucap Bapak dengan senyum yang tulus kalbu.
Ada cinta yang agung dalam setiap peluh,Saat impian suci mulai tumbuh utuh.Hari berganti, bulan pun perlahan genap,Celengan dibuka mengiringi lelap.
Uang receh lusuh berubah wujud menjadi berkah,Bukti taat seorang hamba kepada Sang Pencipta.Kini di sudut lapangan desa,Bapak tersenyum memandang hewan qurbannya.
Tak ada harta melimpah yang ia punya,Hanya keikhlasan yang mengantar langkahnya ke surga.Dua tahun celengan bambu kembali diisi,Kali ini mimpi Bapak setinggi langit tirai.
Bukan lagi domba kecil di sudut sepi,Bapak ingin berqurban seekor sapi.Setiap lembar ribuan dilipat rapi,Saksi bisu malam-malam penuh doa sejati.
Baju tua tak diganti, sepatu usang bertambal lagi,Demi ikhtiar yang tertanam kuat di hati.”Tahun ini giliran sapi, Bu,” bisik Bapak pelan,Di antara kepulan asap dapur dan kesederhanaan.
Dua kali Idul Adha terlewati dalam penantian,Kini tabungan itu menjelma menjadi kenyataan.Sapi gagah itu kini berdiri di halaman masjid,Bapak menatapnya dengan air mata yang melejit.
Bukan karena pamer atau merasa paling taat,Tapi karena rindu pada-Nya yang terbayar sangat.Pisau tajam berkilau, takbir pun menggema,Dua tahun lelah Bapak menguap bersama semesta.Harta dunia mengalir jadi kendaraan ke surga,Bukti cinta hamba yang tak pernah sia-sia.
(By Vandamme)



