Scroll untuk lanjut membaca
Berita

CERPEN,PADA PAGI IDUL ADHA YANG CERAH PAK SURYADI MATANYA BERKACA KACA MENATAP SAPI QURBAN.

0
×

CERPEN,PADA PAGI IDUL ADHA YANG CERAH PAK SURYADI MATANYA BERKACA KACA MENATAP SAPI QURBAN.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 25 MEI 2026

Pundak Pak Suryadi sudah lama berteman dekat dengan terik matahari. Sebagai kuli panggul di pasar induk, upahnya tak pernah menentu. Namun, di balik baju lusuhnya yang kerap basah oleh keringat, ada sebuah rahasia besar yang tersimpan rapat di dalam kamar utamanya.

Sebuah celengan bambu yang diletakkan di atas lemari pakaian.Bagi Pak Suryadi, celengan itu bukan sekadar tempat menyimpan uang sisa. Itu adalah tabungan impian, Dua tahun lalu, celengan serupa telah mengantarkannya memeluk seekor domba jantan untuk diqurbankan.

Rasa haru saat melihat nama dirinya dibacakan oleh panitia qurban di masjid desa masih membekas indah. Sejak hari pemotongan itu, Pak Suryadi langsung membuat celengan baru dengan target yang lebih tinggi.

Beliau ingin berqurban seekor sapi.”Pak, apa tidak terlalu berat? Sapi itu harganya berkali-kali lipat dari domba,” bisik Bu Aminah, istrinya, saat melihat Pak Suryadi memasukkan selembar uang sepuluh ribu yang dilipat rapi.

Pak Suryadi tersenyum, menyeka peluh di dahinya. “Ibu jangan kurangi jatah makan kita. Biar Bapak yang cari selingan kerjaan lain. Kalau kita berniat untuk Allah, jalan-Nya pasti ada.

Maka mulailah perjalanan dua tahun yang penuh air mata dan peluh. Pak Suryadi memperpanjang jam kerjanya hingga malam. Baju-baju tuanya yang sudah menipis tidak pernah diganti.

Sepatu boot karetnya yang bolong hanya ditambal dengan potongan ban dalam bekas. Berkali-kali ia menahan lapar di pasar, memilih membawa bekal nasi putih dan sambal korek buatan istri tercinta demi menghemat uang transportasi.

Setiap malam, sebelum merebahkan tubuhnya yang pegal, Pak Suryadi selalu mengetuk celengan bambu itu. Mendengar suara gemerincing uang logam dan tumpukan uang kertas di dalamnya membuat lelahnya menguap seketika.

Dua kali Idul Adha terlewati tanpa ia ikut berqurban demi mengumpulkan pundi-pundi itu.Hingga akhirnya, waktu yang dinanti pun tiba. Beberapa minggu sebelum Hari Raya Qurban di tahun kedua, celengan bambu itu dibelah.

Bu Aminah meneteskan air mata melihat tumpukan uang receh lusuh dan lembaran seribuan serta sepuluh ribuan yang menggunung di atas tikar. Ketika dihitung bersama takmir masjid, jumlahnya pas untuk membeli satu bagian sapi qurban terbaik.

Pada pagi Idul Adha yang cerah, Pak Suryadi berdiri di sudut halaman masjid. Matanya berkaca-kaca menatap seekor sapi gagah berwarna cokelat bertubuh kekar. Di leher sapi itu, tergantung papan nama bertuliskan namanya.

Saat gema takbir berkumandang dan pisau tajam mulai diangkat, air mata Pak Suryadi runtuh. Dua tahun menahan perih dan lelah seketika dibayar tunai oleh rasa bahagia yang membuncah. Ia tahu, sapi itu bukanlah bentuk pamer, melainkan kendaraan keikhlasan seorang hamba kecil yang mencintai Sang Pencipta dengan seluruh sisa tenaganya.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *