NURJATINEWS.COM – KARAWANG 16 MEI 2026
Agus Purnama 55 tahun tidak pernah menyangka hidupnya akan kembali berwarna. Sejak bercerai dua tahun silam dengan istrinya keseharian yang hanya berputar antara sawah, rumah, dan membesarkan kedua anaknya.Baginya, asmara sudah terkubur bersama masa lalu, Sampai akhirnya.
Ibu Diana (35) terpilih menjadi Kepala Desa yang baru di desa mereka.
Diana adalah sosok yang tegas, cerdas, namun memiliki empati yang tinggi terhadap warga. Setiap kali menghadiri rapat di balai desa, Agus Purnama hanya bisa duduk di barisan paling belakang.
Ia terpaku melihat cara Diana berbicara, memimpin, dan tersenyum.
Sifat bersahaja sang Ibu Kades perlahan menumbuhkan benih kagum yang berubah menjadi cinta yang dalam.Namun,Agus Purnama tahu diri. Ia hanyalah seorang duda kampung berwajah lelah, gigi ompong.
Sedangkan Diana adalah pejabat desa berpendidikan tinggi.
“Bagai pungguk merindukan bulan,” bisik Agus Purnama pada diri sendiri setiap kali pulang dari balai desa. Ia memilih menyimpan rasa itu rapat-rapat dalam untaian doa di sepertiga malam.
Takdir mulai membuka jalan saat desa mereka dilanda proyek saluran irigasi baru.
Agus Purnama yang paham betul seluk-beluk pengairan desa ditunjuk warga untuk membantu Bu Kades. Dari sinilah interaksi intens berawal. Diana mulai melihat sisi lain Agus Purnama ketulusan, kedewasaan, dan tanggung jawabnya yang besar.
Agus Purnama tidak pernah bermuka dua atau mencari muka di hadapan sang pemimpin.Suatu sore di teras balai desa, setelah rapat koordinasi yang melelahkan, Diana memberikan secangkir teh hangat kepada Agus Purnams”, terima kasih ya. Tanpa bantuan nya, proyek ini tidak akan berjalan lancar,” ucap Diana tulus.
Tiga hari kemudian, Diana memanggil Agus Purnama ke ruang kerjanya. Suasana terasa tegang.”Agus Purnama saya sudah membaca kiriman whatts up nya, ujar Diana datar.Jantung Agus Purnama serasa berhenti berdetak. Ia bersiap untuk diusir atau setidaknya mendapat teguran.
Diana berdiri, berjalan mendekat, lalu tersenyum manis. “Rembulan tidak setinggi yang Agus Purnama kira.
Dia juga kesepian di atas sana dan butuh bumi untuk tempatnya bersandar. Jika Agus Purnama serius, temui orang tua saya minggu depan.”Bak disambar petir di siang bolong,Agus Purnama terpaku.
Air mata bahagianya runtuh,Cintanya yang dianggap mustahil ternyata bersambut.
Satu bulan kemudian, Balai Desa disulap menjadi tempat resepsi pernikahan yang meriah. Seluruh warga desa datang memberikan restu. Tidak ada lagi sekat kasta antara kepala desa dan warga biasa. Hari itu, sang duda resmi memulai lembaran baru, menggandeng erat tangan sang rembulan desa yang kini telah resmi menjadi istrinya.
(By Vandamme)



