NURJATINEWS.COM – KARAWANG 16 MEI 2026
Malam di Gang Sadar tak pernah benar-benar tidur. Dua tahun lalu, gunjingan dan aroma parfum murahan menjadi latar belakang pertemuan mereka.
Damar, seorang duda yang kehilangan arah setelah istrinya meninggal dunia. menemukan sisa hidupnya pada diri Lastri.
Lastri adalah seorang wanita yang terperangkap dalam jerat ekonomi lokalisasi.
Cinta mereka tumbuh dari rasa iba yang berubah menjadi keterikatan emosional yang dalam. Damar berhasil membawa Lastri keluar dari lingkaran hitam itu.
Mereka menyewa sebuah rumah petak kecil di pinggiran kota, jauh dari masa lalu Lastri. Dua tahun mereka hidup bersama dalam pelukan cinta yang tenang, namun di luar bayang-bayang hukum dan agama.
Kebahagiaan mereka makin lengkap sekaligus rumit ketika Lastri melahirkan seorang anak laki-laki. Bayi mungil itu mereka namai Bagas.
Kehadiran Bagas mengubah segalanya. Bayi itu suci, namun posisinya rentan tanpa status hukum yang jelas. Suara tangis Bagas sering kali berbaur dengan bisik-bisik tetangga yang mempertanyakan status hubungan mereka.
Damar tahu dia tidak bisa terus bersembunyi di balik status tanpa ikatan.
Di sisi lain, mengurus pernikahan resmi ke KUA membutuhkan dokumen dan proses yang rumit, sementara Danu masih didera ketakutan akan masa lalu Lastri yang bisa saja mengemuka selama proses administrasi.
Mas, aku tidak peduli dengan diriku. Tapi bagaimana dengan Bagas nanti saat dia besar?” bisik Lastri suatu malam sambil menimang bayi mereka. Matanya berkaca-kaca menatap Damar.
Damar menggenggam jemari Lastri yang gemetar. “Aku tidak akan membiarkan anak kita hidup dalam sebutan anak haram, Las. Kita akan mengikat janji.
Setidaknya di mata Tuhan terlebih dahulu.”Keputusan pun diambil. Di dalam ruang tamu rumah petak yang sempit, dengan penerangan lampu neon seadanya, sebuah prosesi sakral digelar secara rahasia.
Damar mengundang seorang ustaz setempat yang memahami situasi mereka, ditemani dua orang tetangga dekat yang tepercaya sebagai saksi.Malam itu, hanya ada sepasang baju muslim sederhana yang mereka kenakan.
Tanpa dekorasi mewah, tanpa pelaminan, dan tanpa riuh resepsi. Mahar yang diberikan Damar pun bersahaja seperangkat alat salat dan sebentuk cincin emas tipis hasil tabungannya menyisihkan upah buruh bangunan.
Saat ustaz menjabat tangan Danu, suasana mendadak senyap. Hanya suara jangkrik di luar rumah yang bersahutan.”Saya terima nikahnya Lastri binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,”
ucap Damar dengan satu tarikan napas yang mantap.
Suaranya bergetar menahan gejolak emosi.”Sah?” tanya sang ustaz.”Sah,” jawab para saksi serempak.
Air mata Lastri tumpah seketika. Dia menunduk dalam, mengucap syukur di balik kedua telapak tangannya. Beban berat yang menggelayuti pundaknya selama dua tahun terakhir seolah terangkat sebagian.
Kini dia bukan lagi wanita simpanan, dan Bagas bukan lagi anak tanpa ayah di mata agama.Setelah doa penutup dipanjatkan, Damar memasangkan cincin ke jari manis Lastri.
Mereka berdua tahu jalan di depan masih panjang dan berliku.
Pernikahan siri ini adalah benteng pertama mereka untuk melindungi cinta dan darah daging mereka dari kejamnya dunia luar.
Sembari mengumpulkan keberanian dan kelengkapan untuk meresmikan ikatan tersebut di mata negara suatu hari nanti.
By Vandamme




