Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN “Kisah Tentang Dua Hati Yang Pernah Retak dan Patah,”Kisah sepi di Rumah itu Resmi Telah Berakhir.

6
×

CERPEN “Kisah Tentang Dua Hati Yang Pernah Retak dan Patah,”Kisah sepi di Rumah itu Resmi Telah Berakhir.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 16 MEI 2026

Empat tahun lalu, rumah bercat Putih kusam itu adalah episentrum sepi,di dalamnya tinggal dua wanita dengan status yang sama,janda, Mawar menjadi janda setelah bercerai dengan suaminya satu tahun yang lalu.

Sementara ibunya,ibu Suprihatin sudah menjanda selama 4 tahun semenjak suaminya meninggal karena sakit, dan Mawar berdua ibunya Setiap malam, mereka hanya saling bertatap dalam diam di ruang tamu.Mawar sering memandangi cermin yang retak dikamarnya.

Merasa kesepian dengan kesendirian,ibunya telah bersimpati kepadanya.
Dalam sujudnya,Mawar selalu menangis,
Ia tidak hanya merindukan sosok imam untuk dirinya, tetapi juga ingin melihat ibunya tersenyum tanpa beban, melihat putrinya ada yang melindungi.

“Tuhan, kirimkan seseorang yang tulus.
Jangan biarkan rumah ini selamanya diisi dua janda yang merawat rindu,” doa Mawar setiap sepertiga malam.Waktu bergulir cepat. Takdir ternyata tidak menjemput jawaban dari tempat yang jauh. Jawaban itu ada di balik pagar pembatas rumah mereka.

Nama pria itu Agus Purnama Seorang duda yang sudah menduda 2 tahun dengan dua anak yang tinggal tepat di sebelah rumah Mawar yang berjarak 50 meter Agus Purnama adalah pria pendiam, pekerja keras.

Selama setahun terakhir, sejak genteng rumah Mawar bocor hingga urusan pintu rumah yang rusak,Agus Purnama selalu hadir mengulurkan tangan tanpa diminta.Lewat interaksi yang santun dan frekuensi yang sering.

Mata Agus Purnama mulai menangkap ketegaran di balik wajah teduh Mawae.
Sebaliknya,Mawarmenemukan ketulusan yang selama ini ia cari pada sosok tetangganya itu.
Agus Purnama tidak melihat status janda Mawar sebagai cela, melainkan sebagai babak kehidupan yang siap ia hias dengan kebahagiaan baru.

Tepat satu tahun sejak doa-doa pasrah itu gencar dipanjatkan, hari yang dinanti tiba.
Pagi itu, halaman rumah Mawar penuh dengan tenda yang anggun dan Aroma melati menyeruak, berbaur dengan wangi masakan syukuran.

Agus Purnama dengan jas elegan berwarna hitam kemeja putih lengan panjang duduk menjabat tangan penghulu di depan ruang yang sudah disediakan beserta meja, yang tadinya tenang, sunyi.dari meja ada ucapan”Saya terima nikah dan kawinnya Mawar bin almarhum Paiman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.

Kalimat kabul bergaung lantang dalam satu tarikan napas.Para saksi berseru sah. Di sudut ruangan, mama Mawar menangis haru. Namun, kali ini air matanya terasa hangat dan ringan. Beban berat di pundaknya selama belasan tahun mendadak luruh.

Putrinya kini memiliki pelindung,Saat Mawar mencium tangan Agus Purnama yang kini resmi menjadi suaminya, ia melirik ke arah jendela tempat ia biasa melamun.
Pagar Besi yang membatasi rumah mereka kini terasa seperti jembatan takdir. Gelar janda itu telah tanggal, digantikan lembaran baru yang penuh berkah.
Kisah sepi di rumah itu resmi telah berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *