Ragam

WANGI MELATI KINI JADI KENANGAN SEPI,TIGA WANITA BERDUKA DALAM SATU TAKDIR ILLAHI.

10
×

WANGI MELATI KINI JADI KENANGAN SEPI,TIGA WANITA BERDUKA DALAM SATU TAKDIR ILLAHI.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 06 JULI 2026

Di bawah atap cinta yang terbagi,Sepuluh tahun waktu telah menguji.Satu sumpah suci di depan penghulu,Dua ikatan rahasia hadir membisu.

Sang suami berdiri di antara empat dinding,Membagi adil yang tak pernah pusing.Malam ini untuk sang istri pertama,Esok hari untuk belahan jiwa yang lama.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat,Penuh air mata dan juga keringat.Ada rindu yang harus ia sembunyikan,Ada cemburu yang harus ia redamkan.

Istri sah di rumah menjadi ratu utama,Menjaga rumah tangga bersama-sama.Dua istri siri di sudut yang lain,Menerima takdir tanpa banyak main.

Dalam diam sang suami berdoa,Semoga bahagia cinta untuk mereka bertiga.Walau rahasia menjadi saksi bisu,Ia berusaha memberi nafkah dan restu

Di balik tirai sepuluh tahun yang sunyi,Mengalir cinta seharum wangi melati.Satu janji sah mengakar di hati,Dua ikatan siri mekar melengkapi.

Bukan rahasia yang membawa luka,Tapi kehangatan dalam setiap rupa.Suami membagi kasih tanpa benci,Menjaga senyum indah para bidadari.

Sepuluh tahun merajut benang asmara,Harum melati merekah di dalam dada.Istri pertama, utama dalam syariat,Dua istri siri, pelipur lara penyejuk jiwa yang taat.

Tiga kuntum bunga di satu taman,Hidup damai dalam dekapan nyaman.Walau tak terucap oleh dunia,Cinta mereka tumbuh subur bahagia.

Malam berganti malam penuh arti,Satu rasa, selembut wangi melati.Lima tahun berlalu, maut datang menjemput,Wangi melati kini berganti kabut.

Sang suami berpulang ke tanah merah,Meninggalkan rahasia yang kini membedah.

Air mata duka belum juga mengering,Kebenaran datang mengejutkan dinding.Istri pertama terduduk penuh tanya,Melihat dua wanita datang membawa duka.

Lima belas tahun tabir itu tersimpan rapi,Kini terbuka di hari suami mati.Dua istri siri menangis di sudut pintu,Membawa kisah cinta yang selama ini membisu.

Sakit dan perih menghantam dada,Mengetahui kasih berbagi tiga.Namun di depan jasad yang kaku membiru,Istri pertama belajar mengikhlas masa lalu.Wangi melati kini jadi kenangan sepi,Tiga wanita berduka dalam satu takdir ilahi.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *