Ragam

CERPEN, KANG WAWAN DULU MERAJUT BENANG,KINI IA MERAJUT ASA BARU LEWAT BUTIR MELINJO.

5
×

CERPEN, KANG WAWAN DULU MERAJUT BENANG,KINI IA MERAJUT ASA BARU LEWAT BUTIR MELINJO.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 09 JULI 2026

Matahari sore di Banten belum sepenuhnya tenggelam , namun aroma khas melinjo sangrai sudah menguar kuat dari teras rumah kang Wawan.

Di hadapannya, beberapa karung putih berisi emping siap kirim sudah tertata rapi.Kang Wawan tersenyum tipis sembari mengusap peluh di dahinya.

Di salah satu karung, tertera angka catatan pengiriman bulan ini: 1 ton.Bagi orang lain, angka itu mungkin biasa. Namun bagi Kang Wawan, satu ton emping itu adalah simbol dari sebuah keberanian besar untuk berbalik arah.

Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar.Kang Wawan masih ingat betul tahun 2000, saat ia melangkah keluar dari tanah kelahirannya, Banten.

Dengan tas ransel usang dan sekadar ongkos pas-pasan. Sebagai pemuda, ia menyerahkan nasibnya pada deru industri Jawa Barat.

Karawang adalah pemberhentian pertamanya, kota di mana ia pertama kali mengenal dinginnya lantai pabrik. Beberapa tahun kemudian, nasib membawanya ke Sukabumi yang sejuk, sebelum akhirnya ia menetap lama di Bekasi.

Selama lebih dari dua dasawarsa itu, identitas Kang Wawan melekat pada sebuah mesin: operator mesin bordir.Setiap hari, selama 23 tahun, telinganya akrab dengan bising ribuan jarum yang bergerak serentak.

Jemarinya lincah menuntun benang-benang warna-warni, mengubah selembar kain polos menjadi pakaian bermotif indah. Dari upah bulanan sebagai operator mesin.

Kang Wawan menghidupi keluarga dan mengubur rindu pada kampung halaman.Namun, waktu punya batasnya sendiri. Pada tahun 2023, Wawan berdiri di persimpangan jalan.

Usianya tak lagi muda, dan tubuhnya mulai lelah berkejaran dengan target jam kerja pabrik. Dengan tekad bulat, ia memutuskan berhenti.

Kang Wawan menanggalkan seragam operatornya, meninggalkan bising mesin yang telah menemaninya separuh hidup

Ia memilih pulang ke akar budayanya, beralih profesi menjadi agen emping.Awalnya tentu tidak mudah.

Dunia baru ini menuntutnya melepaskan keahlian jemari di atas mesin bordir dan menggantinya dengan kemampuan negosiasi, mencari pasokan melinjo terbaik, dan mengetuk pintu-pintu toko camilan.

Tidak ada lagi gaji pasti di tanggal satu. Semuanya bergantung pada berapa banyak emping yang berhasil ia pasarkan.Kini, setelah melewati masa-masa awal yang penuh ketidakpastian.

usaha Kang Wawan mulai menapakkan kaki dengan kokoh. Bulan ini, bisnisnya berhasil menembus angka penjualan 1 ton emping.

Sambil mengikat karung terakhir,Kang Wawan memandangi jalanan di depan rumahnya. Rasa rindu pada Karawang, Sukabumi, dan Bekasi kadang masih melintas.

Namun saat melihat butiran emping yang renyah di dalam kemasan,Kang Wawan tahu ia tidak pernah benar-benar berubah. Dulu ia merajut benang menjadi pakaian, kini ia merajut asa baru lewat tiap butir melinjo.Dan perjalanan ini baru saja dimulai.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *