Ragam

CERPEN,IA MENINGGALKAN MASA LALU YANG PENUH KEPALSUAN,KEMBALI DIJALAN YANG BARU

0
×

CERPEN,IA MENINGGALKAN MASA LALU YANG PENUH KEPALSUAN,KEMBALI DIJALAN YANG BARU

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 12 JULI 2026

Selama dua tahun pertama, Dania hidup bagai seorang detektif yang dikutuk. Semuanya bermula dari aroma, Bukan wangi parfum maskulin yang biasa dipakai suaminya, Aris.

Melainkan keharuman manis yang asing dan tertinggal samar di kerah kemeja kerja Aris.Dania tidak langsung menuduh. Ia memilih diam, mengamati, dan mengendus setiap perubahan kecil dalam rumah tangga mereka.

Perubahan itu nyata: tatapan mata Aris yang selalu beralih, senyum yang terasa hambar, pesan singkat yang terhapus kilat, hingga ponsel yang kini selalu digenggam erat ke mana pun Aris melangkah.

Bahkan saat ke kamar mandi.”Aku lelah,Dania, Pekerjaan di kantor sedang menumpuk,” alasan itu selalu menjadi tameng Aris setiap kali Dania mencoba mencari kehangatan yang hilang.

Dania menelan pahit sendirian, Ia berpura-pura bodoh, memasang topeng istri yang patuh dan percaya. Di dalam sujud malamnya, ia menangis, berharap badai ini hanyalah fase jenuh yang akan berlalu.

Ia menunggu Aris kembali seutuhnya. Namun, kesetiaan Dania justru dibalas dengan hantaman yang lebih keras satu tahun kemudian

Hari itu, topeng kepalsuan Aris jatuh dan hancur berkeping-keping. Aris pulang dengan wajah pucat, berlutut di hadapan Dania, dan membawa kabar yang meruntuhkan sisa-sisa kesabaran Dania yang mati-matian.

Dijaga selama tiga tahun terakhir, Wanita selingkuhan Aris tengah hamil.Bagi Dania, kabar kehamilan itu bukan lagi sekadar badai, melainkan ketukan palu hakim yang mengakhiri segalanya.

Janin di rahim wanita lain itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pernikahan mereka telah mati.Dania tidak berteriak. Ia tidak melemparkan barang-barang.

Dengan tangan yang gemetar namun tatapan yang sangat mantap, ia melepaskan cincin emas di jari manisnya. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Aris yang masih bersimpuh.

Cukup, Aris,” suara Dania terdengar sangat tenang, namun begitu dingin. “Lebih baik kita berpisah.””Dania, maafkan aku… Tolong, aku khilaf,” ratap Aris, mencoba meraih ujung gamis istrinya.

Dania menarik langkahnya mundur, “Aku memaafkanmu, tapi aku tidak bisa lagi hidup bersamamu. Tiga tahun aku menahan perih. Kini ragaku terlalu berharga untuk terus kau bohongi, dan jiwaku terlalu suci untuk terus kausorot dengan dusta.”

Dania menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya yang selama ini sesak perlahan-lahan mulai terasa lapang.

Keputusan ini sudah bulat,”Pergilah bersamanya. Urus anak yang dikandungnya,” lanjut Dania dengan nada final. “Hari ini, aku membuka pintu cerai ini.

Bukan karena aku kalah, tetapi karena aku memilih diriku sendiri. Aku memilih kedamaian yang sudah lama hilang dari hidupku.”Esok harinya, Dania melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan masa lalu yang penuh kepalsuan, siap merajut kembali hatinya yang patah di jalan yang baru.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *