NURJATINEWS.COM – KARAWANG 21 JUNI 2026
Dua garis merah menjadi palu godam,Mengetuk keputusanku dalam diam.Usia muda yang harusnya berlari kencang,Kini terpasung, terhenti di ambang.
Dua bulan benih itu merajut rahim,Mengubah tawaku menjadi senyum yang getir dan dingin.Aku, yang masih sibuk mencari jati diri,Kini harus berdiri, bersumpah di depan wali.
Ada mimpi-mimpi yang perlahan ku kubur dalam,Ada angan bebas yang karam ke dasar malam.Bukan begini cara yang kuinginkan untuk memulainya,Bukan di pelaminan ini tempat cita-citaku bermuara.
Kutatap matanya yang basah oleh sesal,Menahan badai batin yang kian menyesak dan nakal.Kita terperangkap dalam ego yang terlupa,Membuat takdir terpaksa kita eja berdua.
Malam ini, aku menelan ludah kepasrahan,Mengenakan jas hitam di atas segala ketakutan.Tuhan, jika ini adalah penebusan atas khilaf yang nyata,Bimbinglah pundakku untuk memikul takdir ini hingga akhir cerita.
Tujuh bulan berlalu menahan tikaman waktu,Dalam rumah yang awalnya sedingin batu.Hari ini, dinding sunyi itu runtuh seketika,Oleh jerit pertama yang membelah duka.
Lahir sudah jiwa suci yang tak punya dosa,Penghapus penyesalan yang dulu menyiksa.Saat jemari mungilnya menyentuh kulitku,Segala benci dan paksaan luruh membeku.
Kulihat istriku tersenyum dalam lelah yang hebat,Membawa seberkas cahaya yang begitu hangat.Anakku, kau bukan lagi tanda sebuah kesalahan,Tapi alasan baru untukku memperjuangkan masa depan.
Kukubur dalam-dalam ego masa muda yang runtuh,Kini kupeluk tanggung jawab ini dengan utuh.Selamat datang di dunia, penyejuk jiwaku yang gersang,Ayah siap menjagamu, hingga badai benar-benar hilang.
(By Vandamme)



