Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,PUING – PUING KEHIDUPAN YANG DULU LEBUR,KINI MENJADI ISTANA BARU YANG PENUH KEHANGATAN.

6
×

CERPEN,PUING – PUING KEHIDUPAN YANG DULU LEBUR,KINI MENJADI ISTANA BARU YANG PENUH KEHANGATAN.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 18 JUNI 2026

Lantai ruang tamu itu masih terasa dingin, sedingin malam-malam yang dilalui Jajat selama beberapa bulan terakhir. Di sudut ruangan, kardus-kardus pakaian masih bertumpuk. Rumah kontrakan kecil ini menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah impian.

Dua belas bulan lalu, badai perceraian dan konflik besar meremukkan keluarganya hingga lebur tak bersisa. Mantan istrinya pergi jauh, meninggalkan Jajat bersama rongsokan hati yang hancur dan seorang anak laki-laki berusia empat tahun bernama Rio.

Jajat memandangi tangan kasarnya yang gemetar. Sebagai seorang ayah sekaligus kepala keluarga yang kini pincang, ia merasa gagal. Di tengah kebisuan malam, ia sering meraba arah dalam ketidakpastian.

Bagaimana aku bisa membesarkan Rio sendirian? Bagaimana aku menyembuhkan luka ini? tanyanya pada diri sendiri dalam isak yang tertahan.”Ayah… Ibu kapan pulang?”Pertanyaan polos dari mulut kecil Rio malam itu menghantam dada Jajat bagai godam berat, Perih.

Namun, saat melihat mata bulat Rio yang penuh ketakutan, Jajar sadar ia tidak boleh ikut karam. Ia menelan semua kepedihan itu bulat-bulat. Jajat memeluk Rio erat, berbisik dengan suara bergetar, “Ibu sudah punya jalan sendiri, Nak.

Tapi Ayah janji, Ayah akan jadi jangkar yang kokoh buat Rio. Kita bangun rumah kita lagi, pelan-pelan.”Sejak malam itu, Jajat berhenti meratapi nasib. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya yang berserakan.

Setiap pagi, tangan kasarnya belajar memasak bubur, menyetrika baju seragam TK Rio, dan menyisir rambut anaknya meski hasilnya selalu berantakan.Jajat menjadikan kesabaran sebagai pondasi utamanya. Ia mengubah setiap duka menjadi bensin untuk bekerja lebih keras di bengkel tempatnya mencari nafkah.

Dua tahun pun berlalu menyapu air mata.Waktu terbukti menjadi obat paling mujarab yang disediakan semesta. Kini, rumah kontrakan yang dulu sunyi berselimut duka, telah riuh kembali oleh tawa jenaka Rio yang gemar berlarian mengejar kucing.

Jemari kecil Rio kini tumbuh tangguh, ia sudah bisa memakai sepatunya sendiri dan tidak lagi menanyakan hal-hal yang membuat hati runtuh.Puing-puing kehidupan mereka yang dulu lebur, kini telah menjelma menjadi sebuah ‘istana’ baru yang penuh kehangatan.

Jajat tidak lagi melihat bayang-bayang masa lalu saat menatap cermin. Di atas tanah yang gembur oleh kerja keras dan air mata, harapan-harapan baru mulai merekah indah.Sore itu, Jajat duduk di teras rumah sambil memperhatikan Rio yang sedang asyik menggambar pelangi di buku gambarnya.

Ayah, lihat! Pelanginya cerah sekali setelah hujan!” seru Rio sambil memamerkan gambarnya.Jajat tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang mengikat dada.Tangan kasarnya tak lagi gemetar menahan pilu. Bahagia telah resmi menggantikan mendung yang lalu.

Tuhan tidak membiarkan mereka selamanya patah. Dari seorang duda yang hampir kehilangan arah di tengah badai dua tahun lalu, Jajat kini telah bertransformasi menjadi ayah yang hidupnya kembali utuh dan indah. Keluarga mereka memang pernah porak-poranda, namun kasih sayang di antara mereka kini justru jauh lebih bernyawa.Mereka berhasil melewati masa kelam dan siap menyambut setiap fajar baru bersama-sama.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *