Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,KANG FIRMAN DARI PURWAKARTA,KINI BUKAN LAGI PERAWAT MESIN ORANG LAIN,KINI NAHKODA JALANYA RODA NASIBNYA SENDIRI.

2
×

CERPEN,KANG FIRMAN DARI PURWAKARTA,KINI BUKAN LAGI PERAWAT MESIN ORANG LAIN,KINI NAHKODA JALANYA RODA NASIBNYA SENDIRI.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 15 JUNI 2026

Bagi Kang Firman, bunyi dentum mesin pabrik adalah musik latar yang menemani separuh usianya. Sepuluh tahun lalu, ia meninggalkan tanah kelahirannya,Pasawahan,Purwakarta. Dengan tas ransel usang dan sekeping harapan, ia merantau ke Karawang.

Di kota industri yang panas dan sibuk itu,Kang Firman memulai segalanya dari bawah sebagai operator mesin sekaligus teknisi.Tugasnya berat.Kang Firman adalah orang pertama yang dicari jika ada mesin produksi yang macet.

Tangannya akrab dengan hitamnya oli, jarinya lincah menjinakkan panel-panel listrik, dan telinganya kebal terhadap gemuruh pabrik yang memekakkan telinga. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar.

Selama satu dekade itu, ia mengorbankan keringat, menahan rindu pada kampung halaman, dan menghabiskan malam-malam panjang demi memastikan roda produksi perusahaan terus berputar.

Namun, jauh di lubuk hatinya,Kang Firman tahu ia tidak bisa selamanya menjadi sekadar roda penggerak di pabrik milik orang lain. Ada sebuah mimpi yang pelan-pelan ia tenun di sela-sela jam istirahatnya.

Saya harus mandiri,” bisik Kang Firman pada dirinya sendiri suatu malam, saat menatap seragam kerjanya yang bernoda minyak.Keputusan besar itu akhirnya diambil.Kang Firman mengundurkan diri dari kenyamanan gaji bulanan.

Dengan modal tabungan yang dikumpulkan dengan sangat ketat, ia pulang dan memutuskan untuk membuka usaha konveksi.Awalnya tidak mudah. Di sebuah ruangan kecil di rumahnya, Firman hanya mampu membeli dua unit mesin jahit bekas.

Suara tak-tok-tak-tok dari kedua mesin itu kini menggantikan gemuruh pabrik Karawang.Kang Firman bertindak sebagai pemotong kain, montir mesin jahitnya sendiri, sekaligus pemasar. Ada kalanya pesanan sepi, membuat malam-malamnya dipenuhi rasa cemas

Namun, mental teknisi yang pantang menyerah sudah tertanam di dadanya. Jika mesin rusak bisa ia perbaiki, maka jalannya usaha yang mandek pun pasti ada solusinya.Satu dekade kedua dalam hidupnya pun berjalan.

Sepuluh tahun penuh jatuh bangun di dunia bisnis konveksi. Berkat ketelitian, disiplin tinggi bekas pekerja pabrik, dan pelayanan yang jujur, usaha Kang Firman pelan-pelan mendapat kepercayaan pasar.

Pesanan mulai datang dari berbagai instansi dan komunitas.Hari ini, tepat sepuluh tahun sejak ia keluar dari gerbang pabrik, ruangan kecil itu telah berubah menjadi rumah produksi yang luas.

Dua mesin jahit pertama yang sarat sejarah itu kini telah beranak-pinak menjadi 20 mesin jahit modern yang berderu kompak setiap hari.Kang Firman tidak lagi bekerja sendiri; ia telah berhasil membuka lapangan kerja bagi tetangga dan warga sekitar.

Di halaman depan rumah produksinya, terparkir sebuah mobil baru yang mengilat sehabis dicuci.Bagi orang lain, itu mungkin hanya alat transportasi. Namun bagi Firman, mobil itu adalah monumen hidup.

sebuah bukti nyata dari tetesan keringat, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan konsistensi selama dua puluh tahun perjalanan hidupnya.

Kang Firman berjalan mendekati jendela, menatap para karyawannya yang sedang sibuk menjahit, lalu melirik kunci mobil di mejanya.Ia tersenyum tipis.Firman dari Pasawahan Purwakarta itu kini bukan lagi perawat mesin orang lain, melainkan nakhoda bagi jalannya roda nasibnya sendiri.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *