Scroll untuk lanjut membaca
Pendidikan

Diisorot Dewan Pembina AMKI, Siang Hari Karawang Kota Masih Dipenuhi Tumpukan Sampah

5
×

Diisorot Dewan Pembina AMKI, Siang Hari Karawang Kota Masih Dipenuhi Tumpukan Sampah

Sebarkan artikel ini

NURKATINEWS.COMKARAWANG roma sampah masih menyengat di sejumlah sudut Kota Karawang pada siang hari. Tumpukan kantong plastik, sisa makanan rumah tangga hingga limbah pasar terlihat menggunung di beberapa Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS). Kondisi ini memantik sorotan tajam dari Ketua Dewan Pembina AMKI Kabupaten Karawang, H. Saleh Efendi, SH.

Menurut pria yang akrab disapa Abah Pepen itu, persoalan sampah di pusat kota seharusnya tidak lagi menjadi pemandangan rutin, terlebih Karawang dikenal sebagai kawasan industri besar dengan ribuan perusahaan yang beroperasi.

“Seharusnya sejak jam 6 pagi sampah masyarakat sudah terkumpul di TPSS. Lalu sekitar jam 8 pagi armada pengangkut harus sudah membersihkan lokasi. Jadi siang sampai sore hari, Kota Karawang terlihat bersih,” tegas Abah Pepen kepada wartawan di kawasan Nagasari, Rabu (13/5).

Nada kritik Abah Pepen tidak berhenti pada keterlambatan pengangkutan sampah. Mantan pejabat Asisten Daerah (ASDA) I Kabupaten Karawang itu juga mempertanyakan pola kerja dan ketegasan pengelolaan kebersihan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karawang.

Ia menilai persoalan sampah bukan sekadar soal kurangnya armada, tetapi juga menyangkut manajemen dan keberanian mengambil langkah inovatif.

“DLHK harus punya inisiatif dan ketegasan kepada petugas kebersihan. Jangan sampai masyarakat melihat sampah menumpuk setiap hari seperti hal biasa,” ujarnya.

Karawang sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Jawa Barat. Ribuan pabrik berdiri di sejumlah kawasan industri yang tersebar di wilayah tersebut. Namun di balik geliat ekonomi itu, persoalan kebersihan kota justru masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Abah Pepen bahkan menyoroti potensi dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari kawasan industri yang dinilai belum maksimal diarahkan untuk mendukung penanganan sampah.

“Karawang ini daerah industri. Ada sekitar 2.000 pabrik berdiri. Ke mana dana CSR kawasan industri itu? Kalau memang DLHK kekurangan armada, masa tidak bisa membeli armada dari dukungan CSR?” katanya kritis.

Pernyataan itu menjadi semacam tamparan bagi tata kelola kebersihan kota. Sebab, di tengah besarnya perputaran ekonomi industri, masyarakat masih menyaksikan tumpukan sampah bertahan hingga siang hari di pusat kota.

Sorotan serupa datang dari Ketua LSM Masyarakat Karawang (MASKAR), Supardi Nugraha. Ia mengaku kondisi tumpukan sampah di wilayah Kelurahan Nagasari hampir terjadi setiap hari.

“Kalau siang lewat TPSS di Nagasari, masih kelihatan sampah menumpuk. Artinya pengangkutan belum optimal,” ujar Supardi saat dikonfirmasi di Sekretariat MASKAR, Selasa (12/5).

Supardi juga menyinggung besarnya anggaran pengelolaan sampah yang dikabarkan mencapai sekitar Rp7 miliar per tahun untuk sewa armada pengangkut dari TPSS menuju TPA Jalupang.

Menurutnya, kebijakan menyewa kendaraan setiap tahun layak dievaluasi. Sebab, anggaran tersebut dinilai cukup untuk membeli armada baru yang dapat menjadi aset permanen pemerintah daerah.

“Daripada terus menyewa armada pihak ketiga sampai Rp7 miliar per tahun, lebih baik membeli kendaraan sendiri. Bisa dapat sekitar 10 unit armada baru. Ditambah dukungan CSR kawasan industri, seharusnya persoalan sampah di Karawang Kota bisa lebih teratasi,” katanya.

Persoalan sampah memang bukan sekadar urusan estetika kota. Tumpukan sampah yang terlalu lama dibiarkan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, hingga gangguan kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, kritik yang muncul menunjukkan adanya harapan agar Kabupaten Karawang tidak hanya maju dalam sektor industri, tetapi juga mampu menghadirkan tata kelola lingkungan yang bersih, tertib, dan modern.

Sebab bagi masyarakat, ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya dilihat dari tingginya cerobong pabrik atau besarnya investasi, melainkan juga dari hal sederhana: apakah warganya masih harus berdampingan dengan tumpukan sampah di tengah hari bolong.

(Bambang/Hamid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *