Scroll untuk lanjut membaca
Berita

CERPEN,RODIAH MEMBALAS SENYUMAN TIPIS,BERJALAN DENGAN SUAMINYA JAJAT MENUJU RUMAH YANG PENUH KEDAMAIAN.

2
×

CERPEN,RODIAH MEMBALAS SENYUMAN TIPIS,BERJALAN DENGAN SUAMINYA JAJAT MENUJU RUMAH YANG PENUH KEDAMAIAN.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 26 MEI 2026

Suara tabuhan kendang selalu berhasil menyihir malam pertunjukan di Karawang. Di atas panggung kayu yang temaram,Rodiah bergerak lincah. Selendang merahnya,atau yang biasa disebut sampur,dikibaskan ke udara, mengikuti irama Jaipongan yang dinamis.

Senyumnya merekah manis, berpadu dengan lirik mata yang tajam namun memikat,Rodish adalah seorang janda Di Karawang, statusnya bukan rahasia. Namun, alih-alih dipandang sebelah mata, pesona Rodiah sebagai penari justru menjadikannya “bunga desa” yang baru.

Setiap kali Rodiah naik panggung, barisan depan penonton pasti dipenuhi oleh wajah-wajah yang akrab. Mereka adalah para duda desa, mulai dari duda biasa, Duda kaya pemilik penggilingan padi, hingga duda parlente yang gemar bersolek.

Mereka semua duduk berhimpitan, rela berdesakan demi mendapat lirikan langsung dari Rodiah. Setiap kali pinggul Rodiah bergoyang mengikuti ketukan, terdengar helaan napas kagum sekaligus cemburu di antara mereka.

Para duda itu berlomba-lomba memberikan saweran paling besar, berharap hati sang penari luluh. Namun,Rodiah tetaplah Rodiah,Di atas panggung ia milik semua orang, tetapi setelah turun panggung, ia tidak milik siapa-siapa.

Tiga tahun berlalu pergi dengan cepat. Waktu ternyata membawa perubahan besar dalam hidup Rodiah Malam ini,di Karawang acara kembali ramai pertunjukan jaipong tetapi Rodiah tidak lagi berdiri di atas panggung.

Ia berada di antara kerumunan penonton, menggandeng erat lengan seorang pria bertubuh tegap dengan tatapan mata yang teduh. Pria itu bernama Jajat, seorang pengrajin kayu sederhana yang datang ke desa itu setahun lalu.

Jajat bukanlah pria yang ikut berebut di depan panggung tiga tahun lalu. Ia adalah pria yang memilih mengetuk pintu rumah Rodiah dengan sopan, berbicara dengan orang tuanya, dan menawarkan sebuah kesetiaan, bukan sekadar pujian malam hari.

Keberanian dan ketulusan Jajat-lah yang akhirnya meruntuhkan ego sang penari.Kini, kehidupan Rodiah sudah jauh berbeda. Selendang merah yang dulu selalu menemaninya membius penonton, kini tersimpan rapi di dalam lemari tua.

Hidupnya tidak lagi dikejar-kejar oleh bayang-bayang para duda yang penasaran.Saat melewati kerumunan,Rodiah sempat berpapasan dengan beberapa duda yang dulu menjadi pemandu sorak setianya.

Mereka hanya bisa mengangguk segan, memandang dengan tatapan kekalahan yang bercampur hormat. Rodiah membalas dengan senyuman tipis, lalu kembali berjalan beriringan dengan suaminya menuju rumah mereka yang sepi namun penuh kedamaian.Riuh penonton dan kilau panggung malam telah usai, digantikan oleh kebahagiaan sejati yang selama ini ia cari.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *