Scroll untuk lanjut membaca
Berita

CERPEN,AKU TIDAK PEDULI DENGAN MASA LALU,OM,AKU JUGA TAK PEDULI APA KATA DUNIA.

4
×

CERPEN,AKU TIDAK PEDULI DENGAN MASA LALU,OM,AKU JUGA TAK PEDULI APA KATA DUNIA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 18 MEI 2026

Langkah kaki Deny terasa lebih berat dari biasanya,di usianya yang menginjak 58 tahun, ia sadar betul bahwa tubuhnya tidak lagi muda.Namun,sore itu,yang terasa lebih berat bukanlah fisiknya, melainkan isi kepalanya.

Ia duduk di bangku taman kota, menatap cangkir kopi yang mulai mendingin. Di hadapannya, duduk Mawar, gadis berusia 26 tahun yang selama dua tahun ini menjadi dunianya.

Hubungan mereka sejak awal adalah sebuah anomali bagi orang-orang sekitar. Deny adalah seorang duda yang sudah lama menutup hati, sementara Mawar adalah gadis belia, putri dari seorang janda yang kebetulan adalah teman lama Deny.

Saat hubungan mereka dimulai dua tahun lalu,Deny berkali-kali mencoba mundur.Perbedaan usia 34 tahun terasa seperti jurang yang mustahil diseberangi.

Pergilah,Mawar, Carilah pria sebayamu yang punya masa depan panjang,” begitu kata Deny dua tahun lalu, mencoba realistis.Namun saat itu,Mawar adalah gadis berusia 26 tahun yang keras kepala.

Ia menggenggam jemari Deny yang mulai keriput dengan sangat erat. “Aku tidak peduli dengan masa lalu mu, Om, Aku juga tidak peduli apa kata dunia.

Aku memilihmu,” tegas Mawar kala itu, ketulusan dan keberanian Mawar akhirnya meruntuhkan tembok pertahanan Deny.Selama dua tahun, mereka bahagia, saling mengisi antara kedewasaan Deny dan energi muda Mawar.

Namun, waktu adalah penguji yang paling jujur,Dua tahun berlalu, dan realitas mulai menagih jawaban.Di usianya yang ke-28, Mawar mulai dihadapkan pada pertanyaan tentang pernikahan, keluarga, dan masa depan.

Sementara Deny, di usia 60 tahun, menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki energi atau waktu yang sama untuk membangun masa depan dari nol. Tuntutan kehidupan, restu dari ibu Mawar yang perlahan meragu, serta pandangan sosial mulai mengikis keteguhan mereka.

Sore itu di taman, suasana terasa begitu hening meski angin berembus kencang. Genggaman tangan Mawar yang biasanya begitu erat, kini terasa melonggar.

Tidak ada amarah, tidak ada air mata yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah sebuah kesadaran yang matang di mata mereka berdua.”Kita sudah berjuang selama dua tahun, Om,” ucap Mawar lirih, memecah kesunyian.

Suaranya bergetar, namun ada nada pasrah di dalamnya,Deny tersenyum tipis, senyuman penuh kasih seorang pria yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan.Ia mengusap punggung tangan Mawar untuk terakhir kalinya.

“Kau adalah bunga yang baru mekar dengan bebas,Mawar. Duniamu masih sangat panjang dan membentang luas. Sedangkan aku… aku adalah senja yang perlahan berjalan menyambut malam,” kata Deny dengan suara baritonnya yang tenang.

“Memilikimu selama dua tahun ini adalah hadiah terindah di sisa hidupku,Tapi menahan mu lebih lama di sisiku adalah sebuah keegoisan.Mawar menunduk, setetes air mata akhirnya jatuh membasahi meja.

Ia tahu Deny benar, Cinta mereka indah, namun garis waktu mereka berbeda, Perlahan, jemari mereka terurai. Bukan karena rasa cinta itu telah hilang, melainkan karena mereka tahu kapan harus melepaskan demi kebaikan bersama.

Deny berdiri lebih dulu, memberikan satu anggukan hangat sebagai tanda selamat tinggal.Ia berjalan pergi, meninggalkan taman dan meninggalkan kisah dua tahun yang penuh kehangatan.

Di belakangnya,Mawar menatap punggung Deny yang menjauh dengan tegap. Mereka berdua tahu, kisah ini telah selesai dengan mapan,tersimpan rapi sebagai kenangan indah yang tak akan pernah layu.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *