NURJATINEWS.COM – KARAWANG 26 MEI 2026
Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun Ustadz Syaroni dari Griya Permai sudah rapi dengan jubah putih kesayangannya. Wangi minyak gaharu tipis tercium saat ia melangkah menuju Masjid Al-Ikhlas.
Setiap Idul Adha, rutinitasnya selalu sama, namun getaran di dadanya tidak pernah berkurang.Ia memikul amanah besar,menjadi imam sholat ied sekaligus ketua panitia kurban.
Di pelataran masjid, jemaah mulai memutih, memenuhi setiap jengkal shaf. Saat waktu syuruk tiba, Ustadz Syaroni berdiri di mihrab.
Ia berbalik, menatap jemaah dengan teduh, lalu merapikan shaf dengan suara tegas yang berwibawa.”Allahu Akbar, Allahu Akbar…”Takbir tujuh kali di rakaat pertama membelah angkasa. Suara Ustadz Syaroni bergetar penuh penghayatan saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Jemaah larut dalam kekhusyukan, meresapi setiap makna keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail yang tersirat dalam bacaannya. Air mata keharuan meleleh di pipi beberapa jemaah,Begitu salam terakhir diucapkan dan khutbah selesai dibacakan, tugas Ustadz Syaroni tidak lantas usai.
Ia segera kembali ke ruang marbot. Jubah putihnya ditanggalkan, diganti dengan kemeja katun usang dan celana yang digulung hingga betis. Sang imam kini bersiap memimpin riuhnya halaman belakang masjid.”Ustadz, lembu yang ini agak gelisah,” panggil salah satu pemuda karang taruna.
Ustadz Syaroni melangkah sigap, Ia tidak hanya berdiri memberi komando. Tangannya yang kuat ikut memegang tali pengikat. Ia mengusap kepala hewan kurban itu, membisikkan doa pelan hingga lembu itu mendadak tenang dan rebah dengan mulus.
Dengan pisau yang diasah setajam imannya, Ustadz Syaroni memimpin prosesi penyembelihan sesuai syariat. Peluh mengucur deras di dahinya, membasahi baju yang kini bernoda tanah dan darah. Namun, senyumnya tidak pernah luntur.
Matahari kini tepat di atas kepala. Bersama panitia lain, Ustadz Syaroni ikut memotong, menimbang, dan memasukkan daging ke dalam wadah ramah lingkungan.
Ia memastikan sendiri tidak ada satu pun warga dhuafa di kampungnya yang terlewat.Saat kantong daging terakhir diserahkan kepada seorang nenek tua yang tersenyum tulus, Ustadz Syaroni mengembuskan napas lega.
Rasa lelahnya sirna seketika. Dari khusyuknya mimbar suci hingga peluh di pelataran kurban, ia telah menuntaskan tugasnya hari itu,menjadi pelayan umat demi meraih ridho Illahi.
(By Vandamme)



