Ragam

AISAH TERTEGUN,IA MELIRIK IBUNYA YANG PIPINYA MENDADAK MERONA MERAH.

3
×

AISAH TERTEGUN,IA MELIRIK IBUNYA YANG PIPINYA MENDADAK MERONA MERAH.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 15 JULI 2026

Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam saat Pak Sandy duduk tegap di ruang tamu rumah Jamilah. Pria duda berusia kepala lima itu datang dengan kemeja terbaiknya.

Di hadapannya, duduk Aisah, janda muda beranak satu yang selama beberapa bulan ini telah mencuri perhatiannya.”Saya datang dengan niat baik, Aisah.

Saya ingin mengkhitbahmu,” ucap Sandy tenang namun tegas.Aisah menunduk, meremas jemarinya sendiri. Setelah menghela napas panjang, ia menatap Sandy dengan tatapan penuh rasa bersalah.

“Maafkan saya, Pak Sandy. Luka dari perceraian masa lalu saya belum sepenuhnya sembuh. Saya belum siap membuka hati untuk pernikahan lagi.

Saya ingin fokus membesarkan anak saya.”Penolakan itu lembut, namun telak menghantam dada Sandy. Kecewa tentu ada, tetapi sebagai pria matang, ia tidak ingin memaksakan kehendak.

Saat suasana mendadak canggung, pintu dapur terbuka. Ibu Aisah, Jamilah, keluar membawa nampan berisi teh hangat. Jamilah adalah seorang janda yang masih tampak anggun dan bersahaja di usianya yang sudah paruh baya.Tutur katanya santun saat menyapa Sandy.

Silakan diminum tehnya, Pak Sandy” ujar Jamilah dengan senyuman ramah yang menenangkan.Melihat senyum Jamilah dan mendengar suaranya, ada getaran aneh yang mendadak singgah di hati Sandy.

Rasa kecewa akibat penolakan Aisah perlahan mengikis, digantikan oleh kekaguman baru yang mendadak muncul.Sandy menyadari sesuatu.

Kedewasaan dan ketenangan Jamilah justru jauh lebih selaras dengan jiwanya yang juga seorang duda.Setelah obrolan sore itu selesai dan Sandy pamit pulang, pikirannya tidak lagi tertuju pada Aisah.

Di kepalanya kini hanya ada wajah Jamilah. Selama tidak ada ikatan pernikahan atau hubungan darah, secara hukum agama pun tidak ada larangan baginya untuk beralih mengkhitbah sang ibu setelah ditolak oleh putrinya.

Seminggu kemudian,Sandy kembali datang ke rumah tersebut. Kali ini, ia membawa hantaran yang lebih besar. Aisah dan Jamilah menyambutnya dengan heran.

Sandy menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Jamilah dengan mantap. “Maaf jika kedatangan saya mengejutkan. Minggu lalu, Aisah telah menolak saya secara baik-baik. Namun, kehadiran Ibu Jamilah di sore itu membukakan mata saya.

Jika putrimu belum siap, maka hari ini, dengan restu Aisah, saya datang untuk melamar Ibu Jamilah menjadi pendamping hidup saya.”

Aisah tertegun, lalu sedetik kemudian senyum geli dan bahagia terbit di bibirnya. Ia melirik ibunya yang pipinya mendadak merona merah sehangat teh sore itu.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *