NURJATINEWS.COM – KARAWANG 13 JULI 2026
Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk merawat sebuah nama di dalam dada. Bagi raga yang terpisah jarak, nama Suprihatin adalah mantra yang menyalakan harapan di setiap sepi.
Suprihatin adalah gadis Subang yang senyumnya selalu mampir di sela-sela kesibukanku, menjadi impian yang paling keras kepala untuk luruh dari ingatan.
Hari itu, setelah seribu empat ratus hari lebih hanya bisa menyapa lewat layar ponsel dan untaian doa, kakiku akhirnya berpijak di tanah Subang.
Jantungku berdegup dua kali lebih cepat saat motor yang kunaiki berhenti di depan sebuah rumah berpagar rendah.
Rumah Suprihatin Saat pintu kayu itu terbuka, sosok bidadari yang selama ini hanya ada dalam angan akhirnya nyata,Suprihatin berdiri di sana.
Mengenakan pakaian sederhana namun auranya begitu meneduhkan.”Silakan masuk,” sapanya lembut. Suara yang biasanya kudengar lewat speaker telepon kini bergema langsung di telingaku.
Pertemuan di ruang tamunya siang itu mencairkan segala kecanggungan. Kami bercerita banyak hal, ditemani teh hangat yang disuguhkan ibunya.
Setiap tatapan mata, setiap tawa kecil yang lolos dari bibirnya, membuatku sadar bahwa waktu empat tahun yang kuhabiskan untuk menanti sama sekali tidak sia-sia.
Sore harinya, kami memutuskan untuk keluar mencari makan. Kami memilih sebuah Rumah Makan (RM) sunda di pinggir jalan yang teduh.
Di atas meja kayu, tersaji nasi timbel hangat, sambal dadak, dan lauk-pauk khas. Namun, menu utama sore itu sebenarnya bukanlah makanan di atas meja.
Melainkan momen kebersamaan yang akhirnya kami miliki.Aku memperhatikan Salmi saat dia menyendok makanan.
Cara dia berbicara, caranya tersenyum malu-malu saat tatapan kami bertemu, dan perhatian kecilnya saat menggeser piring ke dekatku, membuat sebuah keyakinan di dalam dadaku tumbuh mengeras.
Di sela-sela suapan dan gemuruh angin sore Subang, aku menatap matanya dalam-dalam. Sederhananya momen makan bersama ini justru terasa sangat sakral bagiku.
Di dalam hati, aku membulatkan tekad yang sudah lama kupendam.Aku tidak ingin lagi menjadi penanti yang jauh.
Aku ingin menjadi imamnya.Melihat ketulusan di wajahnya, aku tahu perjalanan empat tahun ini harus segera menemui muara.
Aku tidak ingin lagi hanya berkunjung lalu pulang sebagai tamu. Aku ingin kembali ke rumah ini dengan rombongan keluargaku, membawa cincin, dan memintanya secara resmi kepada orang tuanya untuk menjadi istriku.Suprihatin adalah akhir dari pencarianku, dan aku siap membangun masa depan bersamanya.
(By Vandamme)


