NURJATIMEWS.COM – KARAWANG 20 JULI 2026
Suasana kafe sore itu sangat tenang, Jendela kaca besar menampilkan rona merah senja. Di sudut ruangan, Baskoro duduk dengan secangkir kopi hitam yang mulai mendingin.
Rambutnya sudah memutih sebagian, Garis-garis tegas di wajahnya menceritakan kisah hidup selama 60 tahun.Tak lama, lonceng pintu berdentang.
Rania masuk dengan napas sedikit terengah. Senyumnya merekah, memancarkan energi khas perempuan usia 35 tahun. Langkah kakinya ringan, kontras dengan langkah Baskoro yang kini mulai melambat.
Maaf mas, jalanan macet sekali,” ujar Rania sambil duduk di hadapan Baskoro. Panggilan ‘mas’ itu selalu terasa canggung bagi orang luar yang mendengarnya, mengingat perbedaan usia mereka yang terpaut 25 tahun.
Baskoro tersenyum hangat. Ia menggenggam jemari Rania. “Tidak apa-apa, Ran. Aku sengaja datang lebih awal.”Rania membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah brosur pameran seni di luar negeri.
Matanya berbinar penuh ambisi. “Lihat ini, Mas. Bulan depan proyekku selesai. Aku ingin kita pergi ke sini. Masih banyak mimpi yang ingin kuraih bersamamu.
Baskoro memandangi brosur itu, lalu beralih menatap wajah Rania yang penuh gairah muda. Di sinilah dadanya terasa sesak. Bukan karena ia tidak punya uang.
Baskoro adalah pengusaha sukses yang mandiri secara finansial. Harta bukan masalah bagi mereka. Masalahnya adalah waktu.Rania,” suara Baskoro berat dan tenang.
Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya. “Kita harus berhenti.”Senyum di wajah Rania memudar. “Berhenti? Apa maksudmu, Mas? Kalau soal biaya, aku bisa.
Ini bukan tentang harta, Ran,” potong Baskoro lembut. “Kamu tahu itu. Ini tentang aku yang berada di sisa senja, dan kamu yang baru memulai fajar.”Rania menggeleng keras.
Kita sudah membahas ini! Usia hanya angka, Mas!””Bukan, Rania. Usia adalah fase hidup,” ucap Baskoro, tatapannya penuh ketulusan sekaligus kesedihan.
“Di usiamu yang 35 tahun, kamu sedang berada di puncak karier. Kamu ingin menjelajahi dunia, membangun masa depan, dan berlari mengejar mimpi. Sedangkan aku? Di usia 60 tahun, fisikku mulai lelah.
Aku ingin ketenangan. Aku tidak bisa mengimbangi langkah larimu.”Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rania. “Tapi aku mencintaimu.
Aku tidak peduli dengan semua perbedaan itu.””Aku juga sangat mencintaimu,” bisik Baskoro, suaranya bergetar. “Justru karena aku mencintaimu, aku harus menolak kelanjutan hubungan ini.
Jika kita paksakan, aku hanya akan menjadi jangkar yang menahan kapalmu untuk berlayar. Kamu butuh seseorang yang sepantaran. Seseorang yang bisa menua bersama dari titik yang sama. Bukan seseorang yang bersiap pamit saat kamu sedang mekar-mekarnya.”
Baskoro berdiri, menyandarkan tongkat jalannya sejenak, lalu mengecup kening Rania untuk terakhir kali. Ia meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi.
Rania menangis dalam diam, menatap brosur di tangannya. Ia tahu Baskoro benar. Penolakan ini menyakitkan, namun lahir dari cinta yang terlalu dewasa untuk dipaksakan bersatu dalam satu masa.
(By Vandamme)



