Ragam

CERPEN,ADA JANJI TAMAN SURGA YANG IA TUJU,DENGAN LANGKAH MANDIRI.

0
×

CERPEN,ADA JANJI TAMAN SURGA YANG IA TUJU,DENGAN LANGKAH MANDIRI.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 09 JULI 2026

Matahari sore menyiram pelataran ruko dua lantai itu dengan warna keemasan.Mba Hidayati berdiri di balik meja kasir, memandangi papan nama toko yang mulai memudar warnanya.

Dua puluh lima tahun lalu, di tempat inilah ia dan Mas Jasmo memulai semuanya dari nol. Dari hanya modal nekat dan doa, hingga menjadi usaha yang menghidupi keluarga mereka.

Mas Jasmo adalah kompas dalam hidup mba Hidayati. Lelaki itu tidak pernah meninggikan suara. Setiap kali badai ujian datang menimpa usaha mereka, Mas Jasmo selalu menggenggam tangannya sambil tersenyum tenang.

Sabar, Dek. Gusti Allah mboten sare,” bisiknya selalu. Kalimat religius yang menjadi mantra penyejuk hati mba Hidayati.Namun, dua tahun lalu, takdir berkata lain. Sakit yang menggerogoti tubuh gagah itu hingga tak berdaya.

Di hadapan tubuh suaminya yang sakit kian kurus,mba Hidayati belajar tentang puncak keikhlasan. Ia melepas kepergian imamnya dengan tetesan air mata yang basah oleh doa.

“Selamat jalan, Mas. Semoga kita bertemu lagi di taman surga,” bisiknya di telinga Mas Jasmo sebelum napas terakhir berembus.

Kini, dua tahun telah berlalu.Waktu berjalan merangkak membawa kesendirian yang panjang. Beberapa kerabat dan sahabat sempat mencoba menjodohkan Hidayati.

Kamu masih muda, mba. Usaha juga sukses, cari pengganti untuk bersandar,” kata mereka.mba Hidayati sempat mencoba membuka hati. Ia sempat beberapa kali bertemu dengan pria yang dikenalkan kepadanya.

Namun, setiap kali obrolan dimulai, ada rasa asing yang mengganjal. Ada ekspektasi, tuntutan, dan drama baru yang melelahkan.mba Hidayati menyadari satu hal: ia tidak ingin lagi membagi ruang hatinya hanya karena tuntutan sosial.

Sore itu,Mba Hidayati tersenyum sendiri mengingat masa-masa bimbang tersebut. Ia memantapkan hati untuk memilih hidup sendiri yang penuh dengan kedamaian.

Keputusan itu tidak lahir dari rasa trauma, melainkan dari sebuah kedamaian baru.Hidup sendiri ternyata membuatnya merasa bebas dari beban.

Ia tidak perlu lagi menaruh harap atau takut kecewa pada manusia. Langkah kakinya terasa begitu ringan. Fokus hidupnya kini tertata rapi: membesarkan usaha peninggalan almarhum.

Memperbanyak ibadah, dan menikmati setiap detik waktu dengan tenang.Kesendirian ini bukan lagi sebuah kesepian, melainkan ruang suci baginya untuk memantaskan diri.

Mba Hidayati tahu, ia tidak benar-benar sendiri. Ada cinta Mas Jasmo yang abadi di hatinya, dan ada janji taman surga yang sedang ia tuju dengan langkah mandiri.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *