NURJATINEWS.COM – KARAWANG 08 JULI 2026
Malam itu, angin kota terasa lebih dingin dari biasanya. Di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan, aku duduk berhadapan dengan Rodiah.
Di atas meja kayu yang mulai kusam, hanya ada dua cangkir kopi yang uapnya perlahan menghilang, persis seperti keberanianku yang timbul tenggelam sejak sore tadi.
Aku menarik napas panjang, menatap jemari Rodiah yang melingkari cangkirnya. Aku tahu, aku tidak punya apa-apa untuk dipamerkan.
Rumah mewah, mobil mengkilap, atau tabungan ratusan juta hanyalah angan-angan yang belum terwujud. Aku hanya seorang pemuda dengan ransel usang dan mimpi-mimpi besar di kepala.
Rodiah,” panggilku lirih. Dia mendongak, matanya yang teduh menatapku penuh perhatian. “Aku tidak bisa menjanjikan kemewahan saat ini.
Aku tak punya harta untuk dijadikan syarat cinta. Yang ku punya sekarang… hanya ketulusan hati untuk menjagamu.
Kalimat itu meluncur begitu saja. Ada rasa takut yang menjalar di dadaku. Takut jika dia kecewa. Takut jika dia memilih pergi mencari yang lebih mapan.
Dunia hari ini sering kali menilai cinta dari seberapa tebal dompet di saku.Namun, Rodiah justru tersenyum. Senyuman sehangat matahari pagi yang seketika meruntuhkan seluruh kecemasanku.
Dia menggeser cangkirnya, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemariku yang mendadak dingin.
“Harta itu bisa dicari bersama,” ucapnya mantap, tanpa ragu sedikit pun. “Kita bisa mulai dari bawah. Merintis semuanya dari nol.
Tangga demi tangga. Bagiku, kekayaan sejati itu adalah saat kita saling menguatkan dan tidak pernah menyerah.”Mendengar kata-katanya, dadaku bergemuruh oleh rasa haru.
Malam itu, di kedai kopi yang sepi, kami berdua sepakat. Kami menyatukan langkah untuk melanjutkan perjuangan.
Tidak ada lagi ragu atau ketakutan akan hari esok. Kami setuju untuk merajut masa depan bersama, menepis segala pandangan sinis dunia tentang materi.
Aku menatap matanya dalam-dalam, menggenggam balik jemarinya dengan erat. “Rodiah, mari kita bangun istana kita sendiri dari keringat dan doa.
Bersamamu, aku tahu lelah akan berubah jadi surga.”Sejak malam itu, jalan di depan kami mungkin tidak akan selalu mulus. Badai hidup pasti akan datang menerpa.Namun, selama jemari Rodiah tetap berada di genggamanku, aku tahu kami akan sampai ke muara yang sama, bahagia hingga akhir nanti.
(BY VANDAMME)


