NURJATINEWS.COM KARAWANG 30 JUNI 2026
Empat tahun waktu berjalan,
Dalam rumah yang tampak tenang.sang suami pulang tebar senyuman,Simpan rahasia yang benderang.
Ada janda-janda pemuas raga,
Di balik sekat dinding rahasia.Tubuh bersentuh, dosa dijaga,Menikmati nikmat sesaat dunia.
Bercampur peluh dalam maksiat,terlalu manis hingga terlena.Sang istri di rumah tak melihat,Percaya
penuh pada sang pria.
Empat tahun aman,bersandiwara,tanpa ada curiga menerpa.Namun bangkai busuk kan terbuka,Cepat atau lambat kan menyapa.
Kabut di Puncak Sunyi,Di pucuk gunung angin berdesir,
Dinginnya menusuk hingga ketulang.
Mengapa raga ini terus melipir,
Mengejar hangat yang salah bersilang.
Kabut tebal menutup pandangan,
Sembunyikan jurang di balik batu.Seperti dusta yang kau simpan,
Tampak aman di balik waktu.Ingatlah megahnya puncak tertinggi.
Takkan indah jika berkubang noda.
Kembalilah pulang ke rumah sejati,sebelum badai meruntuhkan dada.Udara gunung sejukkan jiwa,Bilaslah dosa yang kian membeku.
Tataplah istri yang tulus setia,Jangan biarkan ia tertipu.Dua tahun kini telah berlalu,Kabut gunung berganti badai.
Tubuh yang dulu gagah berpadu,Kini ringkih, ringkuk terkulai.Sakit merayap gerogoti raga,Bagai karma yang datang menagih.
Pemuas nafsu entah ke mana,Tinggallah perih yang kian merintih.istri yang tulus tetap menjaga,Menyuapi makan dengan setia.
Tak tahu ia dikhianati jiwa,Membalas tuba dengan segenap cinta.Setiap tatapan menjadi sembilu,Menghujam jantung sang suami.
Menangis batin didera pilu,Meratapi dosa yang terlanjur membumi.
Raga yang sakit, jiwa tersiksa,Tebusan perih buat air mata.Tuhan tunjukkan kuasa-Nya nyata,Di atas ranjang, ia menanti masa.
(By Vandamme)



