Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,SUGIONO PASRAH,MEMBIARKAN TAKDIR CINTANYA MENGALIR SEJUK DAN BEBAS.

8
×

CERPEN,SUGIONO PASRAH,MEMBIARKAN TAKDIR CINTANYA MENGALIR SEJUK DAN BEBAS.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 29 JUNI 2026

Udara pagi di lereng Gunung San ggabuana Karawang selalu berhasil menenangkan hati yang gundah. Bagi Sugiono seorang duda berusia kepala empat, dinginnya angin pegunungan dan hamparan kebun kopi adalah penyembuh setelah kehilangan belahan jiwanya beberapa tahun silam.

Namun, sejak dua tahun lalu, ada satu hal lagi yang selalu berhasil membawa kesejukan luar biasa ke dalam jiwanya, suara lembut Ustadzah Annisa.Annisa adalah seorang janda yang dihormati di desa itu.

Tutur katanya santun, ilmunya luas, dan setiap ceramahnya di masjid jami laksana embun pagi yang membasahi tanah kering.Sugiono selalu duduk di barisan belakang, mendengarkan dengan takzim, dan diam-diam memendam rasa kagum yang amat dalam.

Baginya,Annisa adalah perwujudan ketenangan udara puncak. Selama dua tahun penuh,Sugiono hanya bisa menitipkan nama Annisa dalam doa-doa sepertiga malamnya, merasa diri tak pantas bersanding dengan wanita suci itu.

Memasuki tahun ketiga, rasa yang dipendam Sugiono tak lagi seperti air telaga yang tenang; rasa itu mulai meluap. Dengan restu dari seorang kiai sepuh,Sugiono akhirnya mengumpulkan keberanian yang tersisa.

Sore itu, di serambi masjid yang menghadap langsung ke lembah berkabut,Sugiono mengutarakan maksud hatinya setelah kajian usai. Udara sangat dingin, namun keringat dingin di dahi Sugiono terasa hangat.

Dengan bahasa yang sangat santun dan hati-hati, ia menyampaikan kekagumannya yang telah mengakar selama tiga tahun. Ia menyatakan niatnya untuk menjadi pelindung dan teman ibadah di sisa usia mereka.

Annisa mendengarkan dengan kepala tertunduk anggun. Ketika Sugiono selesai berbicara, kabut tipis mulai turun menyelimuti pelataran masjid, menciptakan keheningan yang panjang dan mendebarkan.

Annisa menghela napas perlahan. Suaranya terdengar sangat lembut, selembut angin malam, namun maknanya memukul dada Sugiono dengan halus.Kang Sugiono” ucap Annisa dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Hati saya sangat menghormati niat baik Njenengan. Namun, saat ini, hati saya masih seperti tanah yang sedang beristirahat. Luka masa lalu dan fokus saya pada dakwah belum memberi ruang untuk komitmen baru.

Saya belum bisa menerima pinangan ini.”Ada jeda yang terasa dingin. Sedingin udara pegunungan yang menusuk tulang, Sugiono menarik napas dalam-dalam, menghirup udara bersih puncak gunung.

Alih-alih kecewa atau sakit hati, seulas senyum tulus justru terbit di wajahnya. Tiga tahun memendam rasa telah melatih hatinya untuku menjadi seikhlas alam,Saya mengerti, Ustadzah,” jawab Sugiono dengan suara yang tetap tenang dan stabil.

“Rasa kagum saya tidak akan berkurang hanya karena jawaban ini. Saya pasrahkan semua pada pemilik hati. Terima kasih sudah mendengarkan.”Malam itu,Sugiono berjalan pulang menuruni jalan setapak. Angin gunung berhembus kencang, menggoyang pucuk-pucuk pohon pinus.

Hatinya terasa ringan. Ia telah melepaskan beban rahasia tiga tahunnya.Sugiono pasrah, membiarkan takdir cintanya mengalir sejuk dan bebas, sekeringat embun pagi yang ikhlas jatuh ke bumi, tanpa pernah menuntut balasan dari bunga yang dibasahinya.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *