NURJATINEWS.COM – KARAWANG 30 JUNI 2026
Sarijan menatap lurus ke arah jendela bus yang membawanya meninggalkan Cilacap yang terkenal dengan pulau Nusakambangan,ia ingin mengubah nasib dan harus meninggalkan kampung halamannya.
Di dalam tas usangnya, hanya ada beberapa lembar baju dan tekad bulat untuk mengubah nasib. Tujuannya satu: Bekasi, kota industri yang menjanjikan harapan bagi para perantau.
Sesampainya di Bekasi, realita langsung menyergap. Deru mesin pabrik dan terik matahari menjadi makanan sehari-harinya sebagai buruh pabrik.
Namun, Sarijan bukan orang yang mudah menyerah. Setiap tetes keringatnya ia ubah menjadi motivasi. Di kota ini pula, ia menemukan tambatan hati. Seorang wanita sederhana yang bersedia menerima dirinya apa adanya.
Pernikahan mereka berjalan penuh kehangatan, dan tanpa terasa, 15 tahun berlalu dalam kesetiaan dan kesederhanaan.
Lima tahun berikutnya, roda nasib Sarijan berputar lebih cepat berkat kerja keras yang tak pernah kendur. Kejujuran dan dedikasinya di lantai pabrik berbuah manis.
Manajemen mengangkatnya menjadi seorang supervisor, Tanggung jawabnya membesar, begitu pula dengan kesejahteraan keluarganya.
Melihat peluang yang ada, sang istri tidak mau tinggal diam. Ia memutuskan untuk ikut bekerja, bahu-membahu bersama Sarijan mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Sinergi suami istri ini membuahkan hasil yang luar biasa. Puncaknya, sepasang perantau ini berhasil membeli sebuah rumah sendiri—sebuah istana kecil yang kokoh, bukan lagi kontrakan sempit seperti belasan tahun lalu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil baru juga terparkir di halaman rumah mereka.Sarijan sering terduduk di teras rumahnya pada sore hari, memandangi mobil dan rumah hasil jerih payahnya.
Anak Cilacap yang dulu datang hanya membawa tas usang, kini telah bertransformasi menjadi pria sukses di tanah Bekasi, membuktikan bahwa perjuangan dan kesetiaan tidak akan pernah mengkhianati hasil.
(By Vandamme)



