Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,JAJAT MENGGENGGAM JEMARI RODIAH,TERIMA KASIH SUDAH MENEMANIKU.

9
×

CERPEN,JAJAT MENGGENGGAM JEMARI RODIAH,TERIMA KASIH SUDAH MENEMANIKU.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 28 JUNI 2026

Satu tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menganyam rasa.Jajat, seorang duda yang masih membawa bayang-bayang kegagalan masa lalu, merasa sangat menyayangi murni.

Murni adalah seorang janda yang mandiri dan penuh perhatian. Namun, beberapa bulan terakhir, hubungan mereka terasa mencekam. Setiap kali bertemu, Murni selalu menuntut satu hal, pernikahan.

Kita sudah satu tahun bersama, Mas. Mau tunggu apa lagi? Aku butuh kepastian, bukan cuma status pacaran,” desak Murni malam itu di sebuah kafe. Tatapannya menuntut, tajam, dan penuh desakan.

Jajat menghela napas berat. Dadanya terasa sesak. Di satu sisi, ia menyayangi Murni. Di sisi lain, bayang-bayang perceraian traumatisnya belum sepenuhnya sirna.

Belum lagi tanggung jawab nafkah anak dari pernikahan pertamanya yang belum stabil. Bagi Jajat, pernikahan bukan sekadar meresmikan hubungan, melainkan komitmen besar yang belum siap ia pikul kembali.

Aku belum siap, Murni. Memaksakan menikah sekarang hanya akan membawa ragu ke dalam rumah tangga kita,” jawab Jajat lirih.Murni menggeleng, air matanya menetes.

Kalau sekarang belum siap, artinya kamu tidak serius!”Malam itu menjadi titik akhir.Jajat memilih mundur. Dengan hati hancur, ia memutuskan hubungan.

Ia tahu Murni terluka, namun baginya, jujur tentang ketidakberdayaan jauh lebih baik daripada memberi janji manis yang berujung dusta. Mereka berpisah di batas kesanggupan.

Tiga tahun berlalu. Waktu menjadi obat terbaik bagi Jajat Ia fokus menata hidup, memulihkan trauma, dan menstabilkan ekonominya. Di saat hatinya sudah benar-benar lapang dan berdamai dengan masa lalu.

Takdir mempertemukannya dengan Rodiah.Berbeda dengan hubungan masa lalunya yang penuh tekanan, bersama Rodiah semua mengalir begitu saja.Rodiah adalah sosok yang tenang dan penuh pengertian.

Ia tidak pernah mendesak Jajat, tidak pernah menuntut pembuktian yang melebihi kesanggupan Jajat. Kehadiran Rodiah justru menjadi penyejuk yang perlahan meruntuhkan dinding ketakutan di hati Jajat.

Suatu sore di tahun ketiga setelah perpisahan masa lalunya,Jajat mengajak Rodiah ke sebuah taman. Kali ini, bukan Rodiah yang menuntut, melainkan Jajat yang memantapkan hati.

Jajat menggenggam jemari Rodiah, “Rodiah terima kasih sudah menemaniku tanpa pernah memaksa. Bersamamu, ketakutanku akan masa lalu telah hilang. Aku tidak lagi ragu.”

Jajat merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin. “Maukah kamu menikah denganku? Membangun masa depan yang utuh bersamaku?”Rodiah tersenyum manis dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan.

Bagi Jajat, kali ini kata “menikah” bukan lagi sebuah momok yang membuatnya ingin melarikan diri. Bersama orang yang tepat dan di waktu yang tepat, pernikahan berubah menjadi sebuah ketetapan hati yang lahir dari ketulusan murni.Jajat siap melangkah ke babak baru, dengan jiwa yang kini telah benar-benar lapang.

(CERPEN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *