NURJATINEWS.COM – KARAWANG 21 JUNI 2026
Langkahku terhenti di batas senja,Menatap matamu yang sedingin samudra.Ada tanya yang tertahan di ujung lidah,Tentang rasa yang tumbuh tanpa jeda.
Aku, lelaki yang pernah patah merajut asa,Mencoba merangkai kata, meruntuhkan dinding baja.Namun kau, perempuan tegar berbalut dingin,Menatapku dengan tatapan tanpa ingin.
Setiap senyum yang kuberikan padamu,Menguap perlahan membentur angkuhmu.Kau tak acuh pada debar yang kian menderu,Seolah cinta hanyalah angin lalu.
Duhai puan yang hatinya terkunci rapat,Dengarlah bisik dari seorang duda yang terpikat.Aku datang bukan untuk merenggut ketenanganmu,Tapi menawarkan hangat di sela sepi masa lalumu.
Bolehkah kunyatakan cinta di bawah langit ini,Meski kau cuek dan membisu seribu bahasa.Aku akan tetap berdiri menanti pelangi,Hingga dinginmu luluh perlahan oleh rasa.
Satu tahun angin malam membakar sabar,Menanti ketukan pintu di hatimu yang hambar.Langkah kaki tak lagi berani melangkah sendiri,Maka kupinjam doa ibu untuk mengetuk sepi.
Lewat tangan tua yang penuh dengan berkah,Ibu menguntai kata, meluruskan jalan yang patah.Menyampaikan bisik rindu seorang duda yang setia,Hingga runtuh sudah dinding angkuh yang kau jaga.
Mata yang dulu sedingin samudra di kala senja,Kini menatapku dengan binar pelangi yang reda.Kau sambut uluran tanganku lewat restu bundamu,Menerima cinta yang setahun lalu membentur dindingmu.
Tak ada lagi cuek yang membeku di antara kita,Hanya ada hangat janji untuk menua bersama.Terima kasih telah menyudahi penantian panjang ini,Mari kita raut masa depan baru yang suci
(By Vandamme)



